Kamis, 25 Desember 2014

Islam, Sains, Al Kindi, dan Albert Einstein



Radar Banten, 26 Desember 2014

Dalam sejarah Islam, Islam Syi’ah maju pesat dan pernah mengukir kegemilangan peradaban dan sains karena doktrinnya relevan dengan kemajuan ilmu dan pengetahuan. Dalam hal ini, sains, kekuasaan dan moralitas dalam ajaran Syi’ah merupakan satu kesatuan. Dalam sejarah peradaban Islam, banyak ilmuwan, astronom, fisikawan, ahli kedokteran, ternyata penganut Syi’ah Islam, semisal al Biruni, Ibnu Sina, dan lain sebagainya. Bahkan, filsafat Islam berkembang dan bertahan berkat muslim Syi’ah. Sementara itu, di abad modern kita ini, Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erkl√§rung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relativitas lewat ayat-ayat Alquran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib (as) dalam kitab Nahjul Balaghah. Ia mengatakan, hadis-hadis dalam Nahjul Balaghah tersebut memiliki muatan yang tidak ada di mazhab Islam yang lain. Hanya mazhab Syi’ah yang memiliki hadis dari para Imam mereka yang memuat teori kompleks seperti Relativitas. Belakangan memang dikabarkan bahwa Albert Einstein adalah seorang penganut Islam Syi’ah. Sejumlah pihak pun mengutip sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relativitas itu, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut mazhab Islam tersebut.

Dalam reportase tersebut dinyatakan bahwa Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatullah Al-Uzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syi’ah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatullah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”. Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.

Salah satu hadis yang menjadi sandaran Albert Einstein itu adalah hadis yang diriwayatkan oleh Allamah Majlisi tentang mikraj jasmani Rasulullah saw. Disebutkan, “Ketika terangkat dari tanah, pakaian atau kaki Nabi menyentuh sebuah bejana berisi air yang menyebabkan air tumpah. Setelah Nabi kembali dari mikraj jasmani, setelah melalui berbagai zaman, beliau melihat air masih dalam keadaan tumpah di atas tanah.” Einstein melihat hadis ini sebagai khazanah keilmuan yang mahal harganya, karena menjelaskan kemampuan keilmuan para Imam Syi’ah dalam relativitas waktu. Menurut Einstein, formula matematika kebangkitan jasmani berbanding terbalik dengan formula terkenal “relativitas materi dan energi”: E = M.C² >> M = E : C² yang artinya, sekalipun badan kita berubah menjadi energi, ia dapat kembali berujud semula, hidup kembali.

Dalam suratnya kepada Ayatullah al Uzhma Boroujerdi, sebagai penghormatan ia selalu menggunakan kata panggilan “Boroujerdi Senior”, dan untuk menggembirakan ruh Prof. Hesabi (fisikawan dan murid satu-satunya Einstein asal Iran), ia menggunakan kata “Hesabi yang mulia”. Naskah asli risalah ini masih tersimpan dalam safety box rahasia London (di bagian tempat penyimpanan Professor Ibrahim Mahdavi), dengan alasan keamanan. Risalah ini dibeli oleh Professor Ibrahim Mahdavi (tinggal di London) dengan bantuan salah satu anggota perusahaan pembuat mobil Benz seharga 3 juta dolar dari seorang penjual barang antik Yahudi. Tulisan tangan Einstein di semua halaman buku kecil itu telah dicek lewat komputer dan dibuktikan oleh para pakar manuskrip.

Sebagaimana kita tahu bersama, dunia sains modern di awal abad ke-20 M pernah dibuat takjub oleh penemuan seorang ilmuwan Jerman bernama Albert Einstein. Fisikawan ini pada 1905 memublikasikan teori relativitas khusus (special relativity theory). Satu dasawarsa kemudian, Einstein yang didaulat majalah Time sebagai tokoh abad XX itu mencetuskan teori relativitas umum (general relativity theory). Teori relativitas itu dirumuskannya sebagai E=MC2. Rumus teori relativitas yang begitu populer menyatakan bahwa kecepatan cahaya adalah konstan. Selain itu, teori relativitas khusus yang dilontarkan Einstein berkaitan dengan materi dan cahaya yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi.

Sedangkan, teori relativitas umum menyatakan, setiap benda bermassa menyebabkan ruang-waktu di sekitarnya melengkung (efek geodetic wrap). Melalui kedua teori relativitas itu, Einstein menjelaskan bahwa gelombang elektromagnetis tidak sesuai dengan teori gerakan Newton. Gelombang elektromagnetis dibuktikan bergerak pada kecepatan yang konstan, tanpa dipengaruhi gerakan sang pengamat. Singkatnya, inti pemikiran kedua teori tersebut menyatakan, dua pengamat yang bergerak relatif akan mendapatkan waktu dan interval ruang yang berbeda untuk kejadian yang sama. Meski begitu, isi hukum fisika akan terlihat sama oleh keduanya. Dengan ditemukannya teori relativitas, manusia bisa menjelaskan sifat-sifat materi dan struktur alam semesta.

“Pertama kali saya mendapatkan ide untuk membangun teori relativitas, yaitu sekitar tahun 1905. Saya tidak dapat mengatakan secara eksak dari mana ide semacam ini muncul. Namun, saya yakin, ide ini berasal dari masalah optik pada benda-benda yang bergerak,” ungkap Einstein saat menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa Kyoto Imperial University pada 4 Desember 1922. Pertanyaannya adalah: Benarkah Einstein pencetus teori relativitas pertama? Di Barat sendiri, ada yang meragukan teori relativitas itu pertama kali ditemukan Einstein. Sebab, ada yang berpendapat bahwa teori relativitas pertama kali diungkapkan oleh Galileo Galilei dalam karyanya bertajuk Dialogue Concerning the World’s Two Chief Systems pada 1632.

Dalam hal ini perlu diketahui bahwa Teori relativitas merupakan revolusi dari ilmu matematika dan fisika. Sejatinya, 1.100 tahun sebelum Einstein mencetuskan teori relativitas, ilmuwan Muslim di abad ke-9 M telah meletakkan dasar-dasar teori relativitas, yaitu saintis dan filosof legendaris bernama Al Kindi yang mencetuskan teori itu. Dan tentu saja, tak mengejutkan jika ilmuwan besar sekaliber Al Kindi telah mencetuskan teori itu pada abad ke-9 M. Apalagi, ilmuwan kelahiran Kufah tahun 801 M itu pasti sangat menguasai kitab suci Al Quran. Sebab, tak diragukan lagi bahwa ayat-ayat Al Quran mengandung pengetahuan yang absolut dan selalu menjadi kunci tabir misteri yang meliputi alam semesta raya ini.

Ayat-ayat Al Quran yang begitu menakjubkan inilah yang mendorong para saintis Muslim di era keemasan mampu meletakkan dasar-dasar sains modern. Sayangnya, karya-karya serta pemikiran para saintis Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah ditutup-tutupi. Dalam Al Falsafa al Ula, misalnya, ilmuwan bernama lengkap Yusuf Ibnu Ishaq Al Kindi itu telah mengungkapkan dasar-dasar teori relativitas. Sayangnya, sangat sedikit umat Islam yang mengetahuinya. Sehingga, hasil pemikiran yang brilian dari era Islam itu seperti tenggelam ditelan zaman.

Menurut Al-Kindi, fisik bumi dan seluruh fenomena fisik adalah relatif. Relativitas, kata dia, adalah esensi dari hukum eksistensi. “Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut,” cetus Al Kindi. Namun, ilmuwan Barat, seperti Galileo, Descartes, dan Newton, menganggap semua fenomena itu sebagai sesuatu yang absolut. Hanya Einstein yang sepaham dengan Al Kindi. “Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda,” papar Al Kindi. Selanjutnya, Al-Kindi berkata, “… jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan.” Pernyataan Al Kindi itu menegaskan bahwa seluruh fenomena fisik adalah relatif satu sama lain. Mereka tak independen dan tak juga absolut.

Gagasan yang dilontarkan Al Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein dalam teori relativitas umum. “Sebelum teori relativitas dicetuskan, fisika klasik selalu menganggap bahwa waktu adalah absolut,” papar Einstein dalam La Relativite. Menurut Einstein, pendapat yang dilontarkan oleh Galileo, Descartes, dan Newton itu tak sesuai dengan definisi waktu yang sebenarnya. Dan menurut Al-Kindi, benda, waktu, gerakan, dan ruang tak hanya relatif terhadap satu sama lain, namun juga ke objek lainnya dan pengamat yang memantau mereka. Pendapat Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein. Dalam Al Falsafa al Ula, Al Kindi mencontohkan, seseorang melihat sebuah objek yang ukurannya lebih kecil atau lebih besar menurut pergerakan vertikal antara bumi dan langit. Jika orang itu naik ke atas langit, dia melihat pohon-pohon lebih kecil. Jika dia bergerak ke bumi, dia melihat pohon-pohon itu jadi lebih besar. “Kita tak dapat mengatakan bahwa sesuatu itu kecil atau besar secara absolut. Tetapi, kita dapat mengatakan bahwa itu lebih kecil atau lebih besar dalam hubungan kepada objek yang lain,” tutur Al Kindi. Kesimpulan yang sama diungkapkan Einsten sekitar 11 abad setelah Al-Kindi wafat.

Menurut Einstein, tak ada hukum yang absolut dalam pengertian hukum tak terikat pada pengamat. Sebuah hukum, papar dia, harus dibuktikan melalui pengukuran. Al Kindi menyatakan, seluruh fenomena fisik, seperti manusia menjadi dirinya, adalah relatif dan terbatas. Meski setiap manusia tak terbatas dalam jumlah dan keberlangsungan, mereka terbatas; waktu, gerakan, benda, dan ruang yang juga terbatas. Einstein lagi-lagi mengamini pernyataan Al-Kindi yang dilontarkannya pada abad ke-9 M. “Eksistensi dunia ini terbatas meskipun eksistensi tak terbatas,” papar Einstein.

Dengan teori itu, Al Kindi tak hanya mencoba menjelaskan seluruh fenomena fisik. Namun, juga dia membuktikan eksistensi Tuhan. Karena, itu adalah konsekuensi logis dari teorinya. Di akhir hayatnya, Einsten pun mengakui eksistensi Tuhan. Teori relativitas yang diungkapkan kedua ilmuwan berbeda zaman itu pada dasarnya sama. Namun, penjelasan Einstein telah dibuktikan dengan sangat teliti. Bahkan, teori relativitasnya telah digunakan untuk pengembangan energi, bom atom, dan senjata nuklir pemusnah massal. Sedangkan, Al Kindi mengungkapkan teorinya untuk membuktikan eksistensi Tuhan dan keesaan-Nya. Sayangnya, pemikiran cemerlang sang saintis Muslim tentang teori relativitas itu itu tak banyak diketahui. Sungguh sangat ironis, memang

Alam semesta raya ini selalu diselimuti misteri. Kitab suci Al Qur’an yang diturunkan kepada umat manusia merupakan kuncinya. Allah SWT telah menjanjikan bahwa Al Quran merupakan petunjuk hidup bagi orang-orang yang bertakwa. Untuk membuka selimut misteri alam semesta itu, Sang Khalik memerintahkan manusia agar berpikir. Bukankah banyak seruan dalam al Qur’an agar yang membacanya berpikir, mengambil ibrah dan hikmah, menjadi seorang peneliti dan pembelajar?

Dan berikut ini adalah beberapa ayat Al Quran yang membuktikan teori relativitas itu: “Sesungguhnya, sehari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung.” (QS Alhajj: 47). “Dia mengatur urusan langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Assajdah: 5). “Yang datang dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS 70: 3-4). “Dan, kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya. Padahal, ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Annaml: 88). “Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari. Maka, tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (QS 23: 122-114).

Karena kebenaran Al Quran itu, konon di akhir hayatnya, Albert Einsten secara diam-diam juga telah memeluk agama Islam dan menjatuhkan pilihan intelektual dan khazanahnya pada Syi’ah Islam (Syi’ah Imamiah Itsna Asyariyah). Dalam sebuah tulisan, Albert Einstein mengakui kebenaran Al Quran. “Alquran bukanlah buku seperti aljabar atau geometri. Namun, Al Quran adalah kumpulan aturan yang menuntun umat manusia ke jalan yang benar. Jalan yang tak dapat ditolak para filosof besar”. 

Sementara itu, jauh sebelum Albert Einstein, Al Kindi atau Al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad, merupakan pioneer dalam bidang teori dan filsafat relativitas waktu ini. Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani. Ketika Khalifah Al Ma’mun tutup usia dan digantikan putranya, Al-Mu’tasim, posisi Al Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi putranya. Al Kindi mampu menghidupkan paham Mu’tazilah yang rasional. Berkat peran Al Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan.

Menurut Al Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitul Hikmah, Al Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya itu telah dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam. Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul. Dikabarkan pula bahwa Albert Einstein pun membaca karya-karya Geometri Al Kindi, sang fisluf dan ilmuwan mu’tazili awal tersebut.

Sulaiman Djaya 


Selasa, 23 Desember 2014

Mulla Sadra dan Empat Perjalanan Kaum Salik





Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ibrahim bin Yahya al-Qawami al-Syiraziyang bergelar “ Sadr al-Din “ dan lebih populer dengan sebutan Mulla Sadra atau Sadr al-Muta’alihin. Di kalangan murid-murid serta pengikutnya disebut “Akhund”. Beliau dilahirkan sekitar tahun 979-980 H /1571-1572 M di Syiraz dimana beliau menerima pendidikan awal. Beliau pergi ke Isfahan untuk menyelesaikan studi ilmu-ilmu intelektual.

Di Isfahan, kemudian menjadi pusat pembelajaran, Sadra mempelajari ilmu-ilmu al-‘Ulum al-Naqliyyah sebagai tafsir al-Qur’an dan Fiqh. Isfahan memang tidak mengecewakannya, karena di sana dia menemukan guru-guru terkemuka yang kelak begitu berpengaruh terhadap dirinya. Selama di Isfahan, Mulla Sadra belajar dibawah bimbingan dua orang guru terkemukayaitu Syaikh Baha’ al-Din al-‘Amili (953-1031 H / 1546-1622 M) dan Mir Damad (950-1041 H / 1543-1631).

Di antara usaha yang dilakukan Mulla Sadra adalah menjelaskan pembahasan filsafatyang merupakan suatu bentuk pelajaran penalaran dan pemikiran. Mulla Sadra menggambarkan bahwa manusia mencapai kearifan tertinggi haruslah melewati empat tahap perjalanan rohani yang semuanya terangkum dalam rangkaian filsafat yang dikembangkannya. Empat tahap perjalanan tersebut antara lain :   

Perjalanan Pertama : Safar min al-Khalq ila al-Haq (perjalanan dari makhluk menuju Tuhan). Pada tingkat ini, perjalanan yang dilakukan adalah dengan mengangkat hijab kegelapan dan hijab cahaya yang membatasi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Seorang salik harus melewati stasiun-stasiun, mulai dari stasiun jiwa, stasiun qalb, stasiun ruh dan berakhir pada maqsd al-aqsa. Pada tahap ini perjalanan rohani baru dimulai dari pelepasan diri dan bergabung menuju Tuhan. Dalam kajian filsafatnya, perjalanan pertama ini adalah gambaran dari upaya salik mengangkat kesadarannya dari realitas makhluk lewat pembahasan wujud dalam makna umum dan juga tentang hukum-hukum ketiadaan, entitas, gerakan material dan sustansial serta intelek.

Perjalanan Kedua : Safar bi al-Haq fi al-Haq (perjalanan bersama Tuhan di dalam Tuhan). Pada tahap ini seorang salik memulai tahap kewaliannya, karena wujudnya telah menjadi diri-Nya dan dengan itu dia melakukan penyempurnaan dalam nama-nama agung Tuhan. Tingkat ini adalah tingkat penyempurnaan teologis seorang salik. Dalam konteks ini Mulla Sadra membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ke-Tuhanan.

Perjalanan Ketiga : Safar min al-Haq ila al-Khalq bi al-Haq (perjalanan ini dari Tuhan menuju makhluk bersama Tuhan). Dalam stasiun ini seorang salik menempuh perjalanan dalam Af’al Tuhan, kesadaran Tuhan telah menjadi kesadarannya dan menempuh perjalanan di antara alam Jabarut, Malakut dan Nasut serta menyaksikan segala sesuatu yang ada pada alam tersebut melalui pandangan Tuhan. Pembicaraan pada tingkat ini meliputi proses penciptaan dan emanasi yang terjadi pada intelek-intelek.

Perjalanan Keempat : Safar min al-Khalq ila al-Khalq bi al-Haq (perjalanan dari makhluk menuju makhluk bersama Tuhan). Pada tahap ini perjalanan penyaksian seluruh makhluk dan apa yang terjadi padanya di dunia dan akhirat serta mengetahui perjalanan kembali menuju Allah dan bentuk kembalinya serta azab dan nikmat yang akan diberikan Allah pada mereka.
           
Mulla Sadra berdiri di persimpangan empat perspektif intelektual utama dalam Islam, yaitu Illuminationist (isyraq) yang didirikan oleh Suhrawardi, paripatetik (massya’i) terutama yang diwakili oleh Ibnu Sina, dan Nasir al-Din al Tusi dan gnostik  (‘irfan) sekolah Ibn Arabi dengan anggota terkemuka seperti Sadr al-Din al-Qunawi dan Dawud al-Qaysari, dan teologi Islam (kalam). Suhrawardi berpendapat bahwa halangan dalam perjalanan untuk menyadari pengetahuan adalah ketegangan antara murni teoritis, diskursif dan berpikir analitis dan metafisik / pengetahuan intuitif.

Di antara karya Mulla Sadra adalah Al-Hikmat al-Muta’aliyah yang dikenal secara sederhana dengan Asfar. Dalam aliran Mulla Sadra empat aliran berpikir –yaitu aliran paripatetik, iluminasi, kalam dan tasawuf tergabung secara sempurna, dan melahirkan aliran baru filsafat yang disebut Hikmah Muta’aliyah. Aliran filsafat ini walaupun secara metodologi sama dengan empat aliran di atas, namun pemikiran yang dihasilkannya sedikit berbeda. Karenanya aliran filsafat ini dikatakan sebagai aliran yang berdiri sendiri dan sebuah pandangan yang baru.
           
Dalam kitab Asfar, dia berkata bahwa argumen akal, penyingkapan dan wahyu sejalan satu sama lain dan tidak saling bertentangan, orang yang tidak mengikuti para nabi dan rasul pada dasarnya tidak memiliki hikmah dan tidak disebut sebagai hakim atau filsuf ilahi. Syari’at yang benar tidak mungkin bertentangan dengan akal, karena pada prinsipnya keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu ma’rifat Tuhan, sifat dan perbuatan-Nya.
                       
Untuk sampai kepada derajat Kasf dan Syuhud maka akal harus dicahayai dengan syari’at, karena hakikat-hakikat yang diperoleh lewat argumen akal jika belum menyatu dengan realitas luar maka merupakan hijab untuk mencapai hakikat-hakikat syuhudi dengan bahasa lain kalau akal belum dicahayai olah syari’at maka segala yang dipahami akal dengan ilmu husuli tidak akan pernah mencapai ilmu huduri.
           
Menurut filusuf ini, fiqih mengarahkan untuk mengarahkan perbuatan manusia, jika perilaku manusia terarah maka kondisi jiwa manusia akan sempurna menerima pancaran-pancaran ilmu dan ma’rifatnya dari Tuhan. Jadi fiqih merupakan pendahuluan bagi kesempurnaan ilmu dan ma’rifat manusia.
           
Aliran filsafat Mulla Sadra mampu menggabungkan antara doktrin Islam dengan pemikiran filsafat. Al-Quran dan Al Hadits dijadikan tumpuan dan sumber ilham untuk menyelesaikan setiap persoalan dan pembahasan yang rumit dalam filsafat. Inilah salah satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh aliran-aliran filsafat lainnya. Penggabungan dua unsur tersebut menjadikan karya-karya filsafatnya sebuah kitab tafsir agama dan begitu juga sebaliknya kitab tafsir Al Quran dan hadits bisa dinamakan sebuah kitab filsafat.
           
Kita kemudian dapat menemukan posisi filsafat Al Hikmah Al Muta’aliyah yang jelas-jelas memunculkan sebuah warna baru di antara filsafat yang ada. Dalam pandangan Mulla Sadra, baik akal maupun syuhud keduanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam filsafat dan meyakini bahwa Isyraqi tanpa argumentasi rasional tidaklah memiliki nilai apapun begitu juga sebaliknya.
           
Melakukan suluk rohani untuk mencapai ma’rifat dan pencerahan bathin bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan setiap orang, karena diperlukan seorang guru yang mampu membimbing salik untuk melewati tahap-tahap perjalanan rohani dan di situ juga terkandung upaya-upaya Setan yang selalu berusaha menjerumuskan para penempuh jalan rohani tersebut. Tetapi tanpa ma’rifat dan pencerahan bathin tidak mungkin seseorang akan dapat mencapai puncak kesempurnaan dirinya.

Dengan argumentasi-argumentasi rasional Mulla Sadra telah memberikan pelita bimbingan bagi para ilmuwan dan intelektual untuk dapat menempuh jalan rohani dalam upaya ma’rifat dan pencerahan batin. Inilah metode Al Hikmah Al Muta’aliyah yang dikembangkan Mulla Sadra.

Kamis, 11 Desember 2014

Sungai Sebagai Aset Masyarakat Banten




Banten Raya, 12 Desember 2014

Jika ada orang-orang yang sangat terikat dan mencintai kampung halaman atau tanah kelahirannya, salah-satu orang itu pastilah termasuk saya. Kampung halaman bagi saya tak sekedar ruang meja baca di mana saya menyendiri, menulis, dan membaca, atau sebuah “rumah” tempat saya tidur dan makan. Lebih dari itu, kampung halaman atau tanah kelahiran bagi saya adalah ingatan dan kenangan. Kampung halaman atau tanah kelahiran saya menyatu dengan bathin saya, karena saya mengalami “kepedihan” dalam kesahajaan dan keterbatasan kami sebagai orang-orang desa yang terbatas. Sebagai manusia-manusia yang akrab dengan apa yang hanya diberikan oleh alam yang belum disentuh oleh kecanggihan tekhnologi dan perangkat-perangkat informasi mutakhir ketika itu.

Di belakang rumah, setidak-tidaknya saat saya masih kanak-kanak, dalam jarak beberapa meter melewati pematang-pematang sawah, mengalir sungai Ciujung yang di tepiannya berbaris pepohonan dan tanaman-tanaman lainnya. Sementara di depan rumah, mengalir sungai irigasi, sungai yang dibuat demi mengalirkan limpahan air sungai Ciujung untuk mengairi sawah-sawah di jaman kolonial Hindia Belanda, dan kemudian diteruskan perawatan dan perbaikannya di jaman Orde Baru. Dua sungai tersebut merupakan “kehidupan” kami yang bekerja dan menggantungkan kebutuhan kesehariannya dari bertani. Dari dua sungai itulah kami mengairi sawah-sawah kami, selain tentu saja dari anugerah hujan di musim hujan. Bersama dua sungai dan sawah-sawah di sekitarnya itulah saya akrab dan hidup bersama mereka.

Namun tentu saja, keadaannya tidak sama dengan sekarang. Ketika itu, bila malam tiba, atau saat adzan berkumandang yang dikumandangkan dengan menggunakan speaker bertenaga accu, kami akan mulai menyalakan lampu-lampu damar kami yang menggunakan bahan bakar minyak tanah atau minyak kelapa. Sebelum kehadiran tiang-tiang beton dan baja seperti saat ini untuk menyalurkan kabel-kabel listrik di setiap kampung, jalan di depan rumah begitu sepi bila magrib tiba, lebih mirip terowongan gelap karena barisan pohon-pohon lebat yang tumbuh kokoh dan rimbun di tepi sungai dan sepanjang jalannya.

Di masa-masa silam, Sungai Ciujung tentulah sebuah anugerah dan keajaiban bagi Banten. Selain merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Banten, Ciujung tak ubahnya nyawa bagi masyarakat yang dilintasi oleh aliran airnya, yang memang melintas sedari Gunung Kendeng di Lebak hingga ujung utara Serang. Airnya yang mengalir jernih ketika itu memberikan kesuburan dan produktivitas bagi pertanian –sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangga bagi hidup keseharian para penduduk dan masyarakat yang dilalui aliran airnya. Tentu saja, ia juga memberikan keindahan bagi yang ingin mendekati dan memandanginya. Saat itu, ada banyak unggas atau pun burung-burung yang bercengkerama dan singgah di aliran airnya atau berkerumun di pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang tepinya.

Masyarakat tradisional Baduy –alias Urang Kanekes, yang hidup di kawasan Leuwidamar dan Gunung Kendeng, Lebak, bahkan menganggapnya sebagai salah satu sungai sakral di Banten, dan menyebutnya sebagai “Sasaka Buana”. Masyarakat Baduy, yang memang memegang kearifan tradisional mereka, juga percaya bahwa pengrusakan lingkungan akan menyebabkan petaka atau dampak buruk bagi manusia. Dan apa yang mereka percaya itu, kini menjadi kenyataan, ketika air Sungai Ciujung telah menghitam kental dan menyebarkan aroma tak sedap, alias tidak sejernih dan sewangi dulu lagi.

Namun bukan hanya kehadiran industri, yang salah-satunya adalah kehadiran pabrik kertas di Kecamatan Kragilan, Serang, yang menyebabkan airnya menghitam dan acapkali menyebarkan aroma tak sedap, ketika angin yang datang dari arahnya berhembus ke arah hidung kita, karena limbah yang dibuang ke Sungai Ciujung oleh pabrik tersebut. Pencemaran Sungai Ciujung juga disebabkan oleh sampah-sampah rumah tangga yang dibuang oleh para penduduk dan masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Ciujung, yang tak kalah mengkhawatirkannya dengan yang disebabkan oleh limbah industri yang ada di kawasan Serang Timur tersebut.

Keadaan itu tentu saja sangat berdampak buruk bagi lingkungan (tanah, lahan, dan pohon), serta masyarakat yang dilintasi oleh aliran airnya, terutama bagi penduduk dan masyarakat yang tinggal di sepanjang Serang Timur hingga Serang Utara, alias mereka yang tinggal di hilirnya. Pendeknya, Sungai Ciujung yang dulu merupakan berkah dan keajaiban bagi Banten, kini telah menjelma kutuk dan sumber penyakit bagi masyarakat dan penduduk yang disinggahi aliran airnya, serta mengirimkan racun bagi lahan dan tumbuhan yang ada di sekitarnya, atau yang dilintasi oleh aliran airnya yang tak lagi jernih, alami, dan sehat seperti dulu itu.

Keadaan tersebut, tentu saja sangat berbeda dengan kondisi Sungai Ciujung sekira 15 atau 20-an tahun silam. Sekarang, Sungai Ciujung yang dulu merupakan berkah alamiah dan keajaiban bagi para petani dan nelayan, itu telah menjelma sungai yang tidak sehat yang akan menimbulkan penyakit bagi penduduk dan membunuh produktivitas lahan-lahan pertanian. Masyarakat tak lagi dapat menggunakan airnya untuk kebutuhan mengairi sawah dan tanaman-tanaman ladang mereka. Apalagi untuk keperluan mandi dan kebutuhan air rumah tangga lainnya, terutama sekali bagi mereka yang tinggal di hilir sungai terpanjang dan terbesar di Banten ini.

Selain telah tercemar karena limbah rumah tangga para penduduk yang tinggal di hulu sungai dan limbah industri yang ada di kawasan Serang Timur, debit air Sungai Ciujung juga mengalami penurunan yang signifikan dan mendekati taraf mengkhawatirkan. Salah-satu penyebabnya adalah mulai berubahnya sejumlah hutan di hulu sungai menjadi lahan pertanian dan perkebunan, dan juga beberapa kegiatan pertambangan pasir dan batu-bara. Fakta tersebut, tak pelak lagi, mesti menjadi perhatian yang serius bagi pemerintah, baik pemerintah provinsi atau pun pemerintah kabupaten/kota, jika kita tidak ingin tanah Banten menjelma neraka di bumi dan sumber petaka bagi kita.

Sulaiman Djaya 


Minggu, 07 Desember 2014

Esai Tentang Esai


Disampaikan di Acara “Nyenyore Ramadhan Ala Rumah Dunia” 25 Agustus 2010 dengan Tema “Seni Menulis Esai”

Seorang esais bisa menulis sebuah esai lebih dimungkinkan dari sebuah keakraban dan keintiman dengan apa saja yang tiba-tiba menarik perhatian dan perasaannya dalam keseharian –sejauh pengalaman dan penangkapannya sendiri sebagai subjek atau pun pelaku hidup dan keseharian. Begitu pun ketika saya membaca sebuah esai, kadangkala sebuah esai yang saya baca membuat saya merasa terhibur dan membangkitkan minat saya untuk terus membaca esai yang sedang saya baca hingga tuntas –dan kadang mengajak saya untuk merenung, meragukan, dan memancing pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya saya anggap lumrah dan lazim sebelum esai yang saya baca menginformasikan sesuatu yang unik dan menyegarkan wawasan saya sendiri sebagai pembacanya.

Begitulah, ketika saya membaca sebuah esai –adakalanya saya merasa seperti tengah menyimak seseorang yang bercerita tentang pengalaman-pengalamannya yang terasa intim dan akrab, seolah-olah saya tengah berbincang dengan pacar atau kawan dekat saya sendiri ketika saya membaca sebuah esai yang ditulis seorang esais.

Karena itu menurut saya –bukanlah sesuatu yang tabu bila seorang esais mengemukakan atau pun menceritakan apa yang ditulisnya dengan pendekatan dan cara pandang yang amat pribadi dan subjektif. Bahkan ketika saya membaca sebuah esai yang ditulis oleh seorang esais, sedikit banyaknya saya akan mengenali dan menyelami karakter dan kepribadian penulisnya –jiwa dan perasaan-perasaan si esais itu sendiri melalui esai yang ditulisnya.

Seorang esais yang memiliki “sense of humor” yang segar biasanya akan menulis esai-esai yang nakal dan penuh canda untuk mengungkapkan pendapat-pendapat dan perasaan-perasaannya dalam sebuah esai –contohnya adalah ketika saya membaca esei-eseinya Mahbub Djunaidi, KH Abdurahman Wahid, dan Ahmad Sobary. Sementara itu, seorang esais yang memiliki kepribadian murung akan cenderung menulis esai-esai yang mengajak kita untuk merenung dan memancing kita untuk selalu bertanya –contohnya adalah esai-esai yang ditulis Soedjatmoko dan sebagian besar para pemikir dan filsuf.

Seorang esais akan sah mengungkapkan rasa suka atau tidak suka dalam sebuah esainya tentang apa yang dilihat, dipikirkan, dan dirasakannya. Seperti ketika saya membaca esai-esainya Michel de Montaigne yang tanpa rasa canggung sedikit pun mengungkapkan sejumlah kekesalan dan ketidaksetujuannya terhadap pandangan dan pemikiran yang menurutnya konvensional dan tak lagi memiliki relevansi dan manfaat untuk hidup keseharian. Montaigne pun tak canggung-canggung mengkritik kebekuan pemikiran atau pun tulisan-tulisan para filsuf yang dibacanya.

Dari tulisan-tulisan Montaigne-lah pengertian esai diambil dan diterima sebagai sebuah bentuk dan gaya tulisan –yang berbeda dengan artikel ilmiah yang mesti rigid, rigorous, dan steril dari perasaan-perasaan pribadi seorang penulis. Esai-esai Montaigne yang saya baca itu tak jarang pula menggunakan sindiran dan canda untuk mengkritik atau pun menolak pemahaman atau pun pemikiran dari tulisan-tulisan para penulis yang dibacanya sebelum dia sendiri menuliskan pendapat-pendapat dan komentar-komentarnya dalam esai-esai yang ia tulis.

Demikian juga –seorang esais bisa menulis sebuah persoalan yang mulanya dianggap remeh dengan sangat menarik dan menyadarkan saya tentang keberadaan sesuatu itu sendiri setelah sebelumnya saya menganggap persoalan yang dibicarakan dalam esainya seorang esais bukan sesuatu yang layak ditulis. Kemampuan tersebut dimungkinkan karena kesanggupan seorang esais itu sendiri dalam menyampaikannya dalam kata-kata dan tulisan dengan menarik dan merayu pembaca untuk membaca esai yang ditulisnya.

Misalnya, seorang esais bisa menulis tentang kehidupan dan keseharian seorang tukang becak dari sudut pandang yang bisa membuat kita bersimpati dan dapat merasakan kehidupan dan keseharian si tukang becak yang ditulis oleh seorang esais. Atau ketika saya membaca memoar seorang esais yang saya baca –sebuah otobiografi yang sanggup mengajak saya untuk merenungi diri saya sendiri ketika membacanya.

Dengan demikian dapatlah dikatakan –tentu saja ini pun masih dalam pengalaman dan pembelajaran saya sebagai seorang pembaca dan penulis, sebuah esei adalah sebuah tulisan dan bahasa yang memiliki jiwa dan kepribadian. Sebuah esai acapkali bersahaja –tetapi dengan kesahajaan dan keluguan itu saya sebagai pembacanya merasakan kejujuran apa saja yang dikatakan atau pun yang diceritakan oleh esai yang ditulis seorang esais yang saya baca.

Juga di lain waktu dan kesempatan yang berbeda –saya membaca sebuah esai yang acapkali nakal, segar, dan penuh canda, yang dengan kenakalan dan kesegarannya tersebut saya sebagai pembacanya merasa terhibur ketika membacanya sembari mendapatkan informasi dan pengetahuan dari sudut pandang yang unik, bahkan kadangkala menggelitik pemikiran dan perasaan saya yang membacanya.

Seperti itulah menurut pengalaman pembacaan saya –sebuah esai menjadi menarik dibaca dan merayu saya untuk terus membacanya karena suara-suara yang menggema dari kata-kata dan bahasa yang berbicara di dalamnya mampu menyentuh tidak hanya pemikiran atau pun kognisi saya, tetapi juga perasaan dan kepekaan bathin saya.

Bila tulisan ilmiah mesti steril dan objektif hingga terasa kering dan membosankan ketika saya membacanya, maka sebuah esai acapkali ditulis justru demi mengafirmasi dan merayakan subjektivitas seorang esais itu sendiri sejauh pengalaman, pendapat, pandangan, dan perasaan-perasaan yang ingin dikomunikasikan atau yang ingin diceritakan melalui medium tulisan demi membagi pengalaman-pengalaman, pandangan-pandangan, dan perasaan-perasaan yang ditulis seorang esais kepada saya sebagai sebentuk interaksi yang terasa hidup dan akrab ketika saya membaca esai-esai yang ditulis seorang esais.

Atas pengalaman dan pembacaan demikianlah –lagi-lagi saya ingin menegaskan pemahaman saya sendiri bahwa seorang esais akan menulis karena keakraban dan keintimannya dengan subjek-subjek yang dipikirkan, dijumpai, dan dialaminya, yang seringkali tulisan-tulisan yang ditulisnya lahir karena spontanitas alias bukan dari rencana yang ketat. Seorang esais akan menulis apa saja yang menarik minat dan perhatiannya tanpa mesti merasa terbebani dengan batas-batas disiplin dan kajian –yang dengan keakraban dan keintimannya itu, pikiran dan perasaan seorang esais menjadi sedemikian terlibat dengan subjek-subjek yang dialami dan dihidupinya. “Sebuah esei tidak dituntut menjadi netral atau pun bebas nilai dari imajinasi dan sisi-sisi pribadi seorang penulisnya”.


Sulaiman Djaya 


Sabtu, 06 Desember 2014

Kaligrafi Sebagai Peradaban Islam


Banten Raya, 5 Juni 2013

Tema dan materi utama, yang juga dapat dikatakan sebagai tema dan materi paling dominan dalam Seni Islam, salah satunya adalah seni bentuk yang menggali dan mengeksplorasi keindahan isi dan bentuk tulisan-tulisan al Quran, yang lazim dikenal sebagai seni menulis indah (kaligrafi). Sementara itu, secara historis, seni menulis indah atau kaligrafi ini diciptakan dan dikembangkan oleh kaum Muslim sejak kedatangan Islam, terutama sekali ketika Islam telah menyebar ke luar dari tempat kelahirannya, Mekkah dan Madinah, menuju Persia dan Suriah, di mana kedua bangsa yang disebut terakhir ini telah dikenal memiliki kemahiran artistik dan estetik jauh sebelum Islam itu sendiri hadir di tengah-tengah mereka. Semisal keanggunan dan keindahan artistik mereka dalam taman dan arsitektur.

Namun kemudian, setelah kehadiran Islam, dibandingkan seni Islam yang lain, kaligrafi memperoleh kedudukan yang paling tinggi dan merupakan ekspresi spirit Islam yang sangat khas. Bangsa Persia pun kemudian turut mengeksplorasi dan bahkan memperindahnya, hingga seringkali melampaui apa yang dulu dikembangkan para seniman sebelumnya.

Seninya Seni Islam

Kaligrafi sendiri, sering disebut sebagai “seninya seni Islam” (the art of Islamic). Kualifikasi ini memang pantas karena kaligrafi mencerminkan kedalaman makna seni yang esensinya berasal dari nilai dan konsep keimanan. Titus Burckhardt, misalnya, memandang kosmik seni Islam, termasuk seni Islam Iran (Persia), tak dapat dilepaskan dari doktrin dan wawasan Islam itu sendiri yang berusaha menjangkau dunia spiritual dan transendensi seorang muslim seperti yang tercermin dalam ibadah itu sendiri, yang juga tercermin dalam arsitektur Islam dan seni Kaligrafi ini. Karena itulah, kaligrafi memiliki pengarauh sangat besar terhadap bentuk ekspresi seni Islam yang lainnya, sebagaimana diakui oleh para sarjana Barat yang banyak mengkaji seni Islam, semisal Martin Lings, Titus Burckhardt, Annemarie Schimmel, Thomas W. Arnold dan para sarjana lainnya.

Sebagai tambahan, dapat dikatakan, keistimewaan lain kaligrafi dalam masyarakat muslim itu sendiri karena seni ini dipandang sebagai bentuk pengejawantahan firman-firman Tuhan yang sakral, dan juga sebagai seni yang sangat berkaitan dengan hadits, seperti terbukti dalam karya-karya kaligrafi yang menampilkan ayat-ayat al Quran atau hadits Nabi Muhammad SAW di tempat-tempat penting kaum muslim, utamanya di mesjid-mesjid. Sementara itu, bangsa Persia (Iran), yang telah lama dikenal sebagai penghasil kesenian dan kebudayaan adiluhung bahkan jauh sebelum kehadiran Islam itu sendiri, mengembangkan dan mengeksplorasi seni ini tak hanya terbatas seperti yang mulanya dikenal dan dikembangkan. Mereka memadukannya dengan anasir, tema, unsur, dan bentuk-bentuk kesenian lainnya, semisal lukisan alam, binatang (semisal burung), dan dedaunan dalam karya-karya kaligrafi mereka, yang mereka terapkan dalam arsitektur dan lukisan kaligrafi itu sendiri.

Murni Seni Islam

Meskipun demikian, terlepas dari eksperimentasi dan eksplorasi seni kaligrafi yang dilakukan bangsa Persia (Iran), seni kaligrafi dianggap sebagai satu-satunya seni Islam yang murni dihasilkan oleh kaum muslim. Sementara itu, bahasa dan bangsa Arab sendiri mengistilahkan seni ini dengan sebutan dan istilah Khatt, yang dapat diartikan sebagai tulisan atau garis yang ditujukan pada tulisan yang indah (al-kitabah al-jamilah atau al-khatt al-jamil ). Juga, dalam konteks artian ini, huruf Arab memang memiliki karakter huruf yang lentur dan artistik sehingga menjadi bahan yang sangat kaya untuk penulisan kaligrafi, dibandingkan dengan tulisan dan huruf-huruf lainnya.

Tak hanya itu saja, selain memiliki karakter yang unik, tulisan Arab juga dapat dikatakan tak hanya sekadar representasi sisi artistik budaya Arab-Islam, tetapi merupakan gabungan keindahan, abstraksi, kreativitas, serta pesan moral yang dikandungnya. Dalam hal ini, setiap garis, spasi, dan alur tulisan memiliki ciri khas dan falsafahnya sendiri. Jika demikian, tak ragu lagi, sifat unik huruf Arab ini baru tereksplorasi dengan baik di tangan kaum muslim, bersamaan dengan perkembangan dan kemahirannya ketika kaum muslim mengenal kesenian-kesenian lainnya seiring persentuhannya dengan bangsa-bangsa lain, semisal dengan Persia dan Eropa. Sebab, pada masa-masa sebelum datangnya Islam, orang Arab sebenarnya tidak memiliki seni tulis seperti yang kelak dikembangkan oleh orang Arab muslim. Begitu pun, beberapa sumber sejarah dan arkeologis, menyebutkan bahwa kerajaan Arab kuno, seperti Nabatea, Hira, dan kerajaan lain di Yaman, menggunakan huruf ini dalam bentuk arkais (corak kuno).  

Sejarah Eksperimen Gaya dan Bentuk Kaligrafi

Secara historis, di sini perlu diterangkan, bahwa akar kaligrafi Arab itu sendiri sebenarnya adalah tulisan hieroglif Mesir yang kemudian terpecah menjadi khatt Feniqi (Fenisia), Arami (Aram), dan Musnad (kitab yang memuat segala macam hadis). Menurut al-Maqrizi, seorang ahli sejarah abad ke 4 Hijriah, tulisan kaligrafi Arab pertama kali dikembangkan oleh masyarakat Himyar (suku yang mendiami Semenanjung Arab bagian barat daya sekitar 115-525 SM). Sedangkan Musnad merupakan kaligrafi Arab kuno yang mula-mula berkembang dari sekian banyak jenis khatt yang dipakai oleh masyarakat Himyar.

Dari tulisan tua Musnad yang berkembang di Yaman inilah lahir khatt Kufi. Selanjutnya, Kaligrafi Arab bercorak kuno ini terus dipertahankan sampai pada masa awal Islam, tepatnya di zaman Rasulullah SAW dan Khulafa’ ar-Rasyidin. Sedangkan penamaan berbagai corak kaligrafi kuno yang berkembang pada masa itu mengambil nama-nama yang dinisbahkan kepada tempat-tempat di mana tulisan tersebut dipakai dan dipraktekkan dalam masyarakat dan kaum intelektual mereka, seperti Makki (tulisan Makkah), Madani (Madinah), Hejazi (Hijaz), Anbari (Anbar), Hiri (Hirah), dan Kufi (Kufah).

Namun, dalam perkembangan selanjutnya, corak kaligrafi kuno ini mulai ditinggalkan pada masa kekhalifahan Bani Umayyah (661-750 M). Pada masa inilah, mulai timbul ketidakpuasan terhadap khatt Kufi yang dianggap terlalu kaku dan sulit digoreskan, kurang fleksibel dan kurang eksperimentatif bagi pencarian dan eksplorasi bentuk demi keindahan estetik dan artistik seni Islam itu sendiri yang memang mau tak mau harus mengalami kemajuan artistik itu sendiri, selain tetap mempertahankan kosmos dan muatan transendensi dalam pemaknaannya. Persis, di sini lah, pencarian bentuk-bentuk baru yang lain pun digali dan diusahakan, semisal yang dikembangkan dari gaya tulisan lembut (soft writing) non-Kufi, hingga di masa inilah lahir banyak gaya dan bentuk kaligrafi, semisal Tumar, Jalil, Nisf, Tsuluts , dan Tsulutsain.

Tak pelak lagi, berkembang dan merebaknya berbagai bentuk dan gaya penulisan kaligrafi pada masa Kekhalifahan Umayyah ini turut melahirkan para ahli penulis kaligrafi yang menghasilkan ragam keindahan seni kaligrafi itu sendiri, seperti Qutbah al-Muharrir, yang di jaman itu dikenal sebagai seniman kaligrafi yang cukup masyhur. Dan tentu saja, kaligrafi mengalami perkembangan dan kekayaan bentuknya di masa-masa selanjutnya, terutama sekali ketika para seniman muslim dari Persia (Iran) memperkaya dan memadukannya dengan seni-seni lainnya, semisal lukisan, yang meminjam figur-figur alam, dengan sejumlah motifnya yang beragam dan menjadi sejumlah gaya dan bentuk yang indah di tangan mereka.  

Sulaiman Djaya