Senin, 01 Desember 2014

Ibn Haitham Sang Pioneer




Radar Banten, 24 Juli 2014

Saat itu, di sebuah penjara, seorang lelaki paruh baya bertingkahlaku laiknya orang gila, tertawa, berteriak-teriak, atau menangis sendiri. Di hari lain, ia pun akan bertingkahlaku tak keruan, laiknya orang yang teramat begitu girang atau seperti seseorang yang tengah kesurupan. Sejak saat itu pula, sipir penjara percaya lelaki itu memang benar-benar gila seperti yang dikatakan beberapa orang. Lelaki paruh baya itu tak lain adalah Ibnu Haitham, yang biasa disebut atau dipanggil Al Hazen oleh orang-orang Barat, sang pioneer ilmu optik dan teori cahaya.

Revolusi Sains dari Sel Penjara

Dan suatu hari, ia begitu serius dan tekun mengamati seberkas sinar yang menerobos ke ruang selnya lewat sebuah lubang dinding di penjara itu. Cahaya yang tengah diamatinya itu memang membentuk berkas sinar bersama molekul-molekul debu yang mengembang. Cahaya yang tekun dan serius diamatinya itu memang membentuk kerucut yang menempel di tembok yang berhadapan dengan lubang dinding sebagai jalan merembesnya cahaya dari luar. Dan yang membuat cahaya itu menjadi istimewa bagi sang filsuf yang tengah mendekam di penjara itu tak lain karena cahaya itu tampak semakin meluas hingga membentuk lingkaran yang menempel di tembok. Pada moment lainnya, lubang yang memindahkan sinar kerucut itu juga memindahkan semua yang melintas di jalanan menjadi bayangan yang terbalik.

Tak ayal lagi, ia pun berteriak girang: “Aku telah menemukannya! Aku telah menemukannya!” Tetapi tentu saja para sipir dan orang-orang lain di penjara itu hanya menganggap dirinya sebagai orang gila. Meski teriakan lelaki paruh baya yang bernama Ibnu Haitham itu adalah teriakan yang akan dikenal sebagai revolusi sains di dunia: teori optik dan cahaya yang telah mementahkan teori-nya Euclid dan Ptolomeus.

Sejak saat itulah, lelaki yang kelak populer di Barat dengan nama Al Hazen itu secara rutin mengamati dan merenungkan fenomena cahaya yang senantiasa singgah di ruang sel dan dinding penjaranya itu. Seakan-akan keberadaan dirinya sendiri di sel tersebut memang merupakan takdir dan kehendak Tuhan. Dengan disiplin matematika dan fisika yang telah ia kuasai dengan sangat baik sebelum ia dipenjara itu, ia selalu mencatat setiap detil yang nantinya akan menguatkan argumen dan dalil teoritik temuannya tersebut.

Demikianlah, di kemudian hari, dengan temuan dan teorinya yang ia temukan dan ia matangkan di dalam sel tahanan itu, ia mampu menjelaskan secara tepat tentang bagaimana mata dapat melihat, sebuah temuan dan teori optik yang saat ini kita kenal. Teori dan temuan lelaki paruh baya di dalam sel tahanannya yang kemudian di Barat dikenal dengan sebutan Al Hazen itu menyatakan bahwa kita dapat melihat karena pantulan sinar benda, membantah teori Euclid dan Ptolomeus yang menyatakan bahwa suatu objek atau benda dapat dilihat oleh mata karena mata mengirim sinarnya ke sebuah benda atau objek.

Berbeda dengan Euclid dan Ptolomeus, Ibnu Haitham menyatakan bahwa kemampuan mata dapat melihat sesuatu atau objek di luarnya karena cahaya yang dipantulkan objek atau benda tersebut diproyeksikan pada kornea mata dan lalu diteruskan sampai retina dalam keadaan terbalik. Gambar yang terbalik itu kemudian ditangkap oleh sel-sel syaraf retina mata dan dikirim ke otak. Demikianlah, dalam teori optik Al Hazen atau Ibnu Haitham, gambar terbalik tersebut diproses oleh otak hingga tegak kembali seperti adanya. Dan itulah proses penglihatan oleh mata kita. Singkatnya, revolusi sains dan fisika ditemukan oleh seorang lelaki paruh baya di dalam sebuah sel tahanan, saat para sipir dan sesama tahanan lainnya menganggap ia gila.

Arsitek dan Ilmuwan Bersahaja

Meski dikenal hanya dengan sebutan Ibnu Haitham dan Al Hazen, nama lengkap lelaki paruh baya yang tetap menjadi ilmuwan di penjara itu adalah Abu Ali al Hasan Bin al Hasan Bin al Haitham Bin al Bashri al Mishri. Seorang lelaki yang lahir di Bashra, Irak, pada tahun 965 Masehi. Namun tak banyak yang tahu, sejak mudanya hingga masa-masa selanjutnya, ia adalah juga seorang arsitek ulung, hingga membuat kagum sang walikota Bashra ketika itu, yang memang berniat membangun sebuah istana megah. Saat itulah, ia tak hanya ditunjuk oleh sang walikota sebagai arsiteknya, tapi juga sebagai pimpinan proyeknya.

Menanggapi keinginan sang walikota itu, ia berkata terus-terang: “Tuan walikota, saya hanya seorang arsitek yang tugasnya hanya membuat design. Sementara untuk menangani bangunannya secara keseluruhan adalah tugas kontraktor dan pemborong.” Tapi entah kenapa, mendengar jawaban Ibnu Haitham itu, sang walikota Bashra yang dikenal arogan itu tersinggung dan menganggap Ibnu Haitham sang ilmuwan yang jujur dan bersahaja itu sebagai ilmuwan dan arsitek yang angkuh dan sombong. Karena kejadian itu, ia merasa tak nyaman hidup di Bashra, dan lalu ia pun pindah ke Baghdad ditemani dua asistenya: Raihan dan Adnan. Di kota itu ia bekerja sebagai pembuat bibliografi atau mencatat kode-kode buku untuk perpusatakaan. Tak cuma itu saja, di kota Baghdad itu ia pun menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab.

Hanya saja, setelah ia tahu bahwa mata-mata walikota Bashra terus menguntitnya, ia pun hijrah ke Syam (Damaskus). Adalah sebuah kebetulan yang membuatnya gembira bukan kepalang, walikota Syam sangat menggandrungi ilmu pengetahuan, dan segera mengagumi kemahiran Ibnu Haitham, hingga sang walikota itu akan segera membaca setiap buku yang baru selesai ditulis oleh Ibnu Haitham, dan setelah itu menyimpannya di perpustakaan pribadinya. Namun ketika sang walikota itu menggajinya terlalu besar, Ibnu Haitham tak segan-segan mengembalikannya kepada sang walikota. “Biarlah saya mengambil empat dinar saja, tuan walikota.” Demikian suatu ketika Ibnu Haitham mengembalikan uang dari sang walikota yang baginya terlalu besar yang menurutnya dapat mengalihkan kecintaannya pada sains, kali ini dengan ucapan dan cara yang lebih diplomatis, belajar dari kesalahannya di Bashra yang membuat walikota di kota yang ia tinggalkan itu marah kepadanya.

Penemu Bendungan

Sejak tinggal di Syam itulah, namanya sebagai seorang ahli dan seorang ilmuwan mulai menyebar ke negeri-negeri lain, hingga khalifah Mesir ketika itu, al Hakim Bin Amrillah, meminta dan mengundangnya untuk mengatasi bencana yang acapkali menimpa Mesir, terutama bencana akibat musim hujan dan kemarau, di mana saat banjir banyak yang tergusur karena bah, sementara kemarau seringkali membuat Mesir tertimpa kekeringan dan kelaparan.

Menerima undangan dan permintaan pengusa Mesir itu, ia dengan tekun dan serius mempelajari peta geografis dan topografis Mesir selama berhari-hari. Dan setelah itu, sebuah kesimpulan yang tepat dan genuine telah ia dapatkan: Mesir membuang secara sia-sia anugerah air saat musim hujan yang akan berguna sewaktu musim kemarau. “Bendungan! Itulah jalan keluarnya!” Teriaknya girang. Setelah itulah, gagasan dan konstruksi bendungan menjadi dikenal luas dan dipraktekkan di wilayah-wilayah yang ada dalam administrasi dan kekuasaan pemerintahan kekhalifahan Islam, termasuk di Peninsula Iberica atau yang kini kita kenal dengan Spanyol dan sekitarnya itu.

Sulaiman Djaya 

 Iran Military 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar