Kamis, 02 April 2015

Membaca Kembali Nietzsche




Dari sudut pandang pemikiran, gapura peralihan dari modern ke posmodern adalah pada Nietzsche. Posmodernisme menjadikan adigum "kematian Tuhan" Nietzsche sebagai "end of modern philosophy" (makna lebih dalam bisa ditelusuri pada konsep endism Fukuyama dan Derrida). Oleh banyak penafsir Nietzsche, ia dianggap sebagai tokoh yang sangat anti agama. Tetapi benarkah demikian?

Tyler T. Roberts, dalam penelitian disertasi Ph.D-nya di Harvard yang kemudian diterbitkan dalam buku berjudul "Contesting Spirit: Nietzsche, Affirmation, Religion" memberikan pandangan yang berbeda; Nietzsche adalah tokoh yang berdiri di posisi tengah antara anti agama dan pemikir agama. Signifikansi Nietzsche dalam genealogi agama terutama adalah kritiknya yang berhasil menumbangkan pohon keramat agama yang membelenggu dengan buaian yang menghibur dan ilusif, dan memunculkan sensibilitas spiritual yang baru. Dari sinilah posmodern menemukan momentumnya untuk membangun kembali masyarakat yang "tidak ogah" dengan agama; dalam bahasa Jonathan Smith, sebagai "imagining religion".

Kritik paling mendasar Nietzsche terhadap agama adalah moral religi-nihilistik dalam masyarakat Barat – kampung halaman Nietzsche – yang mengatasnamakan Tuhan untuk membentuk gambaran pengosongan manusia dari penghargaan diri apapun. Nietzsche menyatakan bahwa penganut agama bukan memproyeksikan segala "kemungkinan" dan kesempurnaan mereka ke dalam Tuhan, malah sebaliknya memproyeksikan suatu "kemustahilan". Dengan kata lain, Tuhan menjadi yang sama sekali tidak dapat dicapai manusia. Inilah yang membuat manusia tampak tidak berharga.

Lewat kritiknya itu, Nietzsche sudah mengayunkan "kapak bermata dua" (bukan hanya palu godam). Dengan satu sisi ia mengkritik metafisika yang menempatkan "ketakterjangkauan" Tuhan dan mencurigai nilai 'kebenaran' yang menyertainya; dan sisi yang lain "memenggal kebancian" manusia yang tidak memiliki kesadaran dirinya.

Kecurigaan Nietzsche menjadi pintu masuk yang dilalui Derrida untuk membongkar metafisika lewat satu ungkapan bahwa wacana filosofis adalah wacana formal, retorikal, dan figuratif yang harus ditelanjangi. Seperti juga Nietzsche, yang mendorong manusia untuk terus mencipta (melalui will to power-nya) keanekaragaman interpretasi, maka Derrida lewat teori dekonstruksinya menghendaki pencarian terus menerus terhadap kebenaran sebagai penghadiran sesuatu dalam dan bagi dirinya sendiri.

Bagi Derrida, makna bergerak terus menerus di sepanjang matarantai penanda. Dan Nietzsche membaca sejarah moralitas, sebagaimana dalam Genealogy of Moral-nya, sebagai teks, sebagai makna yang silih berganti. Tujuan serta alat untuk mencapainya adalah tanda-tanda yang merupakan rangkaian kontinu dari interpretasi yang selalu baru. Maka, "yang benar" selalu berada dalam posisi tertangguhkan; dan bentuk ini secara jelas diungkapkan Derrida dengan "tanda silang" (sous rature), yaitu bahwa tanda selalu dimuati jejak-jejak (trace) tanda lain yang tidak pernah muncul secara utuh. Otoritas teks hanya bersifat sementara.

Dari argumentasi teks ini, Derrida mengatakan bahwa metafisika adalah sebuah kehadiran (metafisika kehadiran), yang disebut juga sebagai "onto-teologi" atau ilmu tentang Mengada atau Tuhan sebagai kehadiran yang berlangsung terus-menerus. Derrida menggugat metafisika para pendahulunya yang meyakini bahwa sudah ada asumsi wilayah kepastian yang serta merta tersedia.

Dalam pandangan Derrida, yang ada adalah intertekstual, yang dihasilkan oleh adanya penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda dan Petanda terus terpisah dan menyatu kembali dengan kombinasi-kombinasi baru, dan menghasilkan makna yang baru; demikian seterusnya tanpa berkesudahan. Maka tidak ada sesuatu yang bersifat mutlak, kecuali bahwa makna dipahami melalui intertekstual, dalam pembacaan oposisi biner. Setiap makna baru yang muncul meninggalkan jejak dari makna sebelumnya sehingga membentuk matarantai dalam kompleksitas yang tidak ada habisnya. Dengan demikian Derrida menolak adanya kehadiran dalam pengertian tunggal. Kehadiran adalah sesuatu yang berlangsung terus menerus, "di sini" dalam spatial and temporal.

Dengan demikian, melanjutkan gagasan Nietzsche, Derrida mendobrak kebuntuan interpretasi metafisis. Metafisika bukan lagi sesuatu yang tak terjangkau. Tuhan juga bukan lagi sesuatu yang hanya wujud dalam realitasNya sendiri, yang tidak tercerap oleh fakultas pengetahuan manusia. Jika Nietzsche menjadikan will to power sebagai pisau bedah untuk melakukan interpretasi atas "ketidakhadiran" manusia pada dirinya, maka Derrida menggunakan "teleskop" teks untuk meneropong keberagaman makna yang lahir dari intertekstual. Dan dengan itu, keduanya menggugat sekaligus mengatasi "ketakterjangkauan" dalam metafisika.