Tampilkan postingan dengan label MMS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MMS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 November 2014

Pendekatan Determinacy dalam Puisi




Oleh Shafwan Hadi Umry

MENURUT teori otonomi semantik perbedaan makna tidak dapat diatasi, karena makna bukanlah apa yang dikatakan penyair, tetapi 'apa makna puisi itu bagi berbagai pembaca yang peka'. Sebuah tafsiran dapat dipandang bahwa yang satu sama tepatnya dengan tafsiran yang lain, sepanjang tafsiran itu 'peka' atau'masuk akal'. 

Penafsiran atas puisi menimbulkan dua kutub yang berdiri pada posisi yang berbeda. Jika makna terbaik bukan milik pengarang, maka makna itu pastilah milik kritikus, dan dalam hal ini sang kritikus adalah 'penyair makna terbaik'. Bilamana makna dikaitkan pada serangkaian kata-kata maka kita tidak mungkin melepaskan diri dari penyair sebagai pemilik puisi.

Perdebatan ini selalu muncul ketika kritikus/pengamat sedang membahas puisi-puisi sang penyair. Selalu timbul ketegangan, konflik dan kepentingan yakni kepentingan pengamat sebagai kritikus dan kepentingan penyair sebagai pemilik puisi.

Inilah 'kekacauan' dalam teori yang kita alami sekarang ini. Oleh karena itu sering pengamat atau kritikus gamang untuk memasuki dunia otonom penyair yang menulis karya puisi. Kritikus dihadapkan pada persoalan makna tafsiran atas puisi.

Hirsh sang kritikus menawarkan apa yang disebut prinsip determinacy (Heraty, Hidup Matinya Seorang Pengarang, 2000:64).

Prinsip ini adalah kemampuan untuk memaknakan ulang yang memungkinkan kita, membuat penafsiran. Jika makna tidak dapat diulang kembali, maka ia tidak dapat diaktualkan orang lain dan karenanya tidak dapat dipahami atau ditafsirkan.

Determinacy adalah sifat dwi-makna yang diperlukan agar ada sesuatu yang dapat diwujudkan kembali. Ia mutlak diperlukan agar sesuatu makna dapat diteruskan pada orang lain. Memang, sebagian besar makna kata tidak persis dan kabur. Ia memiliki daerah perbatasan antara keambiguan (makna ganda) dan ketunggalan.

Makna kata memiliki identitas diri pada kurun waktu yang berkaitan dengan sejarah atau waktu.

Dalam pembicaraan ini kita menampilkan beberapa puisi penyair (menurut pilihan dan pertimbangan tertentu).

Pertama, puisi karya penyair Sulaiman Djaya dari Banten (Mazmur Musim Sunyi, 2000). Simaklah kata-kata di bawah ini:

Bacalah dengan nama piring, gelas, sendok, dan buku-buku, juga sepotong kue bolu di antara baris-baris angka dan kalender tua. Di bawah Maret yang agak coklat dan sudut-sudut yang tak saling menyapa, benda-benda saling sibuk menghitung apa yang tak sempat kaubaca dalam diam mereka yang dungu dan bisu, bagai lembar-lembar sebuah fiksi kesukaanmu.

Kudengar gerimis berjingkat-jingkatan di sudut matamu, dan senja tiba-tiba telah berubah menjadi rumah-rumah yang tak satupun memiliki jendela.

Namun, kau masih sempat memandang beberapa ekor burung dan unggas yang melintas. juga tiang-tiang biru sebuah istana yang pernah kauceritakan
.

Puisi penyair di atas benar-benar memadukan dunia realitas dan dunia mimpinya. Dunia keseharian seorang penyair yang bertemu dengan kebutuhan fisikal manusia yakni makan, minum bermain menikmati alam dan membaca. Bagi sang penyair alam dan kebiasaan adalah teman manusia setiap hari. Sesekali ia memimpikan sebuah istana suatu gambaran dunia kekuasaan.

Pada puisi yang berjudul 'Monolog" ia mengakui dirinya untuk belajar menyimak berita yang tidak semuanya sesuai dengan fakta. Penyair menulis;

Saya tahu seorang penyair harus belajar
Menulis puisi yang kata pertamanya bukan aku
Tapi di luar kalimat tak pernah terjadi apa-apa,
Di luar kalimat segalanya berubah kapan saja
Seperti cuaca.Namun tidak juga
Saya mesti menyimak semua berita
Yang semakin tak membuktikan apa-apa
.

Pada puisi "Mantra dari Negeri Para Sultan" penyair melakukan referensi ke masa lalu. Kata-kata yang dipakai untuk membangun semacam 'the time tunnel' sebuah lorong waktu masa lalu yang dicurahkan ke masa kini. Simaklah puisi yang di anggap terindah dalam kumpulan puisi ini.

Misalkan kau Bandar di kota tua, aku adalah seorang kapiten muda yang mencari sirih dan lada dari Banten dan kapur dari Barus. di atas bentangan layarku , langit menyisir rambutnya yang perawan. saat itu aku adalah Diogo de Couto yang berangkat dari Coromandel dan Calcutta. Sedangkan kau seorang putri Ong Tien dari Tiongkok yang terdampar di Teluk Karangantu saat hendak ke Tuban dan Aros Baya.

Pada puisi 'Cello Serenade" penyair memahami puisi dengan cara berpuisi.

Biarkan puisi mencari takdirnya sendiri
Karena puisi tak cuma nukilan kata-kata
Bahkan bahasaku seumpama
Bulu-bulu yang lepas dari sayap


Penyair kedua adalah Raudah Jambak asal kota Medan. Ada dua puisi yang sempat terekam dalam lembaran Budaya Analisa (18 Mei 2008).

Puisi 'Pada Kalender-kalender yang Tak Lagi Terbaca' penyair menuliskan kecemasan dan keresahannya tentang perpisahan masa lalu yang dimetaforakan pada kalender yang setiap bulan berganti dan akhirnya tertinggal dan mungkin terkoyak bersama kenangan. Kita baca ulang kembali puisi tersebut.

Pada kalender-kalender yang tak lagi
Terbaca, aku susun catatan-catatan kita
Angin mengelus dingin ubun-ubunku
Bersama genangan airmata

Stasiun ini pun telah lama tak lagi
menunggu janji setia, yang tertinggal
Hanya serpihan hati dari gores tangan
Berwarna derita

Pada kalender-kalender yang tak lagi
Terbaca, rindu dendam telah lama buram
Mengenangmu, entah di mana berimba.

Stasiun sebagai terminal selalu menjadi inspirasi beberapa penyair untuk menangkap lanskap 'terminal' suatu simbol perhentian sementara, suatu yang menawar janji untuk tidak setia.

Secara paradoks setiap waktu trem dan kereta api mengangkut manusia tetapi belum tentu mengangkut diri penyair, stasiun tetaplah sebuah penantian sementara kereta yang ditunggu tetap hadir mengangkut penumpang tetapi belum tentu kita penumpangnya.

Pada puisi 'Tentang hujan daun dan kau' penyair ini berkata;
Sederas deru nyanyian hujan kau tetap bertahan
Baris-baris debu, menyembur mantra beraroma dupa
Karam di kornea mata menghapus jejak perjalanan

Di setiap titik peron-peron lengang
Baris-baris takdir menghadirkan bau amis
Meranting sepanjang jalanan bercabang
Dan daun-daun yang melayang rebah

Sekelam bayang-bayang malam kau hadirkan geram
Langkah-langkah kata pun perlahan terhenti menderas
Sepenuh tangis memeluk risau
Sekeras deru nyanyian hujan kau tetap bertahan…

Ada tiga simbol yang dipakai penyair yakni hujan, daun dan kau. Simbol, hujan untuk menampilkan kedatangan rahmat Tuhan karena itu orang yang sadar tentang rahmat Tuhan akan bertahan penuh kesabaran.

Namun, tidak dengan daun, lambang takdir yang 'meranting selama perjalanan hidup seseorang manusia' dan akhirnya gugur layu menunaikan takdirnya.

Suatu simbol awal kehidupan dan akhir kematian. Kemudian 'kau' dipakai sebagai media dialog antara penyair dengan seseorang mungkin anak istri, murid atau teman-teman yang dianggap akrab dengan kehidupan penyair.

Beberapa puisi yang ditulis oleh dua penyair pilihan bulan ini membuktikan bahwa pendekatan determinacy sebagai alternatif memahami dan menafsir puisi menurut kita adalah suatu makna dapat diteruskan pada orang lain.

Semua ini berdasarkan identitas diri kepenyairan. Oleh karena tanpa identitas diri komunikasi maupun ketepatan dalam tafsir tidak akan mungkin terjadi.

Sumber: http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/03/23/86139/pendekatan_determinacy_dalam_puisi/#.VGTzN2fXBI0 



Coca Cola, Mazmur Musim Sunyi dan Walt Disney



Oleh Heri Maja Kelana*

Banyak manusia yang telah tersakiti oleh apa yang dikatakan dengan “cinta” –namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa masih banyak orang yang membutuhkan “cinta”? Apa mereka tidak bosan-bosannya tersakiti? Hal serupa juga terlihat ketika ada seseorang yang memakai behel (kawat gigi). Fenomena behel memang bukan hal yang baru terjadi dalam dunia kesehatan –terlebih banyak orang yang ingin terlihat modis atau terlihat cantik dan tampan tanpa gigi tonggos. Belakangan, behel menjadi life style di kalangan remaja, sekalipun gigi mereka sudah bagus dan rapi –mereka hanya ingin mendapatkan predikat “anak gaul” semata.

Pada tahun 1955, tepatnya 17 Juli di Anaheim, California, dibangun sebuah sarana hiburan yang diberi nama Disneyland. Pendiri Disneyland tersebut adalah Walt Disney. Penting saya sampaikan hal ini kepada pembaca, karena dengan adanya Disneyland telah muncul satu ideologi baru, impian baru, realitas baru dan hal-hal baru lainnya yang selanjutnya saya katakan dengan meme. Zaman baru, bebas dari intervensi. Meme dari Disneyland begitu terasa sampai pada setiap individu manusia di seluruh dunia. Ideologi yang muncul adalah kapitalis. Pemodal lebih merasa menjadi seorang manusia ketimbang manusia yang biasa-biasa saja. Mereka berkuasa, oleh karena itu sangat mudah mewujudkan impian menjadi sesuatu hal yang nyata.

Cinta dan meme dalam kehidupan tidak bisa dipisahkan dan akan terus mengalir hingga suatu saat berhenti dengan sendirinya. Cinta muncul dari banyak pandangan –dan meme muncul dari berbagai sudut kepala yang memiliki ide cemerlang. Begitu pula dengan karya (puisi) –perubahan satu tema, bentuk dan isi dari puisi tidak lepas dari realitas yang sedang terjadi –namun bukan berarti seorang penyair menjadi pemotret yang ulung atau menjadi follower generasi. Lebih dari itu, seorang penyair menjadi bagian dari realitas tersebut dan mewariskan ide untuk realitas selanjutnya.

Suatu ketika saya pernah berkesempatan meminum coca-cola, rasanya memang enak. Namun saya tidak suka dengan minuman berkarbonisasi, mungkin karena alasan kesehatan, ideologi, dll. Akan tetapi banyak orang yang justru sangat menyukai coca-cola. Demikian juga dengan puisi yang terhimpun dalam “Mazmur Musim Sunyi” ini. Sulaiman Djaya saya samakan dengan Walt Disney –dalam urusan membangun “dinasti imaji”. Walt punya Disneyland sedangkan Sulaiman Djaya (selanjutnya disebut SD) punya arena imaji dalam antologi puisi “Mazmur Musim Sunyi”. Kedua orang ini, awalnya mungkin berniat ketika membuka ‘ruang’ adalah untuk kebaikan, mudah-mudahan tercapai. SD dengan MMS-nya telah berani menawarkan satu produk ide untuk pembaca –itu yang membuat saya terpacu untuk terus mendalami puisi-puisinya.

Run on Run

Seorang penyair memiliki satu ruang yang sepertinya tidak dimiliki oleh manusia biasa –yaitu ruang “antara”. Ruang antara ini yang membuat puisi-puisi menjadi dahsyat, bernyawa, dan magis. Apakah dalam puisi-puisi SD juga demikian? Saya kira, ya. Namun tidak semua. Penyampaian ide yang dilakukan oleh SD adalah dengan dua cara. Pertama dengan dua, tiga sampai lima kata. Kemudian yang kedua dengan bentuk naratif yang panjang. Hal itu adalah keterampilan retorika seorang penyair. Keberhasilan SD adalah memainkan personifikasi dan hiperbola dalam setiap puisi-puisinya. Material dihidupkan oleh teknik seorang penyair, bukan alami. Ini salah satu gaya yang dimiliki oleh SD. Lihat puisi “Tak Ada Mawar dalam Sajak-sajakku”, “Kotak Cinta Bulan April”, "Nyayian Cahaya”, “Sajak yang Kutulis Saat Bosan”, “Sebelum November Berakhir”.

Permainan run on run juga terjadi pada puisi-puisi “Rima Bulan Juni”, “Musim Untuk Ibuku”, “Fragmen Gerimis”, “Serafin Januari”, “Serafin Bulan Mei”, “Kasidah Barzanzi”, dan bentuk puisi yang serupa lainnya. Keberhasilan SD dalam memainkan bentuk tentunya bukan keberhasilan mutlak dalam sebuah capaian estetika, sebab masih banyak yang harus dilihat dari puisi-puisinya. Puisi-puisi SD seperti yang saya katakan di atas memiliki ruang imaji personal yang sulit untuk diakses oleh saya sebagai pembaca.

Coca-Cola dan Mazmur Musim Sunyi



Kita kembalikan dulu bahasa pada hakikatnya –yaitu sebagai sarana komunikasi. Kode masyarakat adalah kode yang sudah sering ditemui atau sudah diketahui oleh masyarakat. Sedangkan kode personal adalah kode yang diciptakan oleh penutur-penutur tertentu untuk kalangan-kalangan tertentu saja, termasuk puisi. Apabila penutur dalam hal ini penyair tidak dapat menjalin komunikasi dengan penerima atau pembaca, maka akan terjadi kegagalan komunikasi, yang terjadi hanya ada ide utopis pada kedua belah pihak. Saya tidak mengharapkan hal ini terjadi pada puisi-puisi SD. Narasi-narasi besar yang berada di sekitar kita secara disadari atau tidak telah memberikan efek sugesti kepada kita. Apakah SD tersugesti? Ya tentu saja. 

”Begitu pun aku sesat dalam buku-buku dan kata-kata yang membuatku semakin lupa pada apa yang mesti kulakukan, hingga sebuah suara berteriak entah dari mana: “berhentilah dan dengarkan nyayianmu sendiri kala malam semakin dalam dan dalam, meresap pada ubun-ubun dan samudera matamu nun mengiba di antara derai-derai keyakinan dan ketakpastian, yakni kata-kata yang tak bersayap yang meminta ingin terbang dan menjelajah semesta doa dan harapan, keinginan dan keputusasaan tak menemu lembar-lembar baru manakala kau hendak menuliskannya sepenuh cinta”

Penggalan puisi yang berjudul “Tak Ada Mawar dalam Sajak-sajakku” di atas memberikan deskripsi kode yang coba digali oleh penyair dalam berkomunikasi dengan penerima. “Seringkali saat pagihari, kutemui kelengangan, di antara para unggas yang sibuk menancapkan paruh mereka pada air dan lumpur. Bermain-main cahaya yang memantul di mata mereka. Dan jika pun ingin bertanya tentang hidup, kuyakin aku tak punya jawabnya. Sebab seringkali apa pun yang kupikirkan, seringkali aku pun lupa menyaksikan sesuatu yang berharga pada yang biasa saja”. Penggalan puisi yang berjudul “Kiasan Menulis” di atas memberikan juga deskripsi kode dari penyair untuk penerima.

Pendeskripsian-pendeskripsian yang dilakukan SD adalah pendeskripsian utopis. Adapun sesuatu yang sifatnya realis telah dikacaukan oleh hal-hal yang utopis. Dan saya kira puisi-puisi ini sebenarnya ditujukan bukan hanya kepada manusia saja, lebih dari itu kepada Sang Maha Gaib. Oleh karena itu, sangat wajar seorang penyair mengungkapkannya dengan berbagai cara tanpa dibatasi teori, materi, dan golongan. 

Meme: Disneyland, coca-cola, dan Mazmur Musim Sunyi adalah sebuah ruang "antara" yang dibangkitkan oleh ekspresionisme dari para penciptanya. Spirit itu yang kemudian muncul dan menggairahkan pembaca, sehingga pembaca ikut bertamasya. Itulah kehebatan dari puisi. Terakhir, saya juga ingin menyampaikan apa yang telah disampaikan oleh Slavoj Zizek tentang sesuatu hal tidak dapat terlihat atau dapat dikatakan gelap. Seperti alam semesta. Maksud saya hal yang tidak semua dapat diterjemahkan dengan harfiah, yang kemudian muncul hanya beberapa fragmen-fragmen tertentu saja. Tidak ada fakta dalam alam semesta, yang ada hanya kekosongan yang luar biasa. Begitu pula dengan puisi.

*Penyair dan pecinta sepeda 



Rimba Warna Mazmur Musim Sunyi




Oleh Mugya Syahreza Santosa*

“Aku selalu punya hitam yang paling lembut, // sebuah rumah dalam kerang // bermahkota kabut. Aku selalu punya dinding // yang senantiasa menggambar waktu.“

Penggalan puisi di atas merupakan pernyataan Sulaiman Djaya (selanjutnya dipanggil SD) sebagai penyair yang berhadapan dengan puisi-puisinya. Puisi dalam diri SD merupakan buah pengembaraannya ke dunia teks untuk menghasilkan kembali sebuah teks lain, meski tak dituntut menjadi hal baru, namun minimal memproduksi sesuatu yang mewujud “rupa baru”. Ini merupakan terusan dari apa yang diutarakan Arip Senjaya dalam epilog buku itu. Meskipun Arip menjelaskan bahwa jejak pembacaan SD dalam hal ini, tidak akan menjamin memperlihatkan tempat pemberangkatannya, melainkan mempertajam puisi-puisi SD itu sendiri.

Padahal, dengan tingkat kepercayaan diri SD yang ragu, pada kata pengantarnya, sang penyair sudah menyatakan bahwa puisi-puisinya mungkin saja lanjutan dari setiap hal yang telah hadir sebelumnya. Baik sebagai ide gagasan, estetika, maupun spiritnya. Saya kira tidak ada yang aneh dengan kesadaran SD akan hal tersebut. Bahkan satu sisi mungkin kesadaran tersebut menjebak sebagai kutukan yang bertahap menghampiri diri seorang penyair.

Akan tetapi tulisan ini, demi menghindari pembacaan yang sama, saya lebih memilih mengincar obsesi SD pada hal-hal yang riil dan seringkali menghiasi puisi-puisinya. Baca saja frasa “Hitam yang paling lembut” di larik pertama puisi SD yang berjudul “Mula Puisi”, yang menyuratkan obsesi SD sebagai penyair terhadap warna. Obsesi sebagai pikiran yang berulang dan menetap, impuls-impuls atau dorongan yang menyebabkan kecemasan. Obsesi itu acapkali muncul di berbagai puisi-puisinya untuk menegaskan di mana di SD sebagai penyair sedang berdiri: yang mengakibatkan adanya panorama yang sedang direnunginya sebagai peristiwa, alur waktu seperti ditegaskannya pada frase berikutnya: “menggambar waktu”, dan kegelisahan lainnya lagi yang kerap hadir menghantuinya.

Rasionalisasi benda-benda pada puisi-puisi Sulaiman Djaya selalu memungkinkannya untuk memaknai obsesi tersebut, seperti tercermin dalam pengakuannya: “benda-benda menggambar cuaca jadi warna”, dan begitu mendambakannya SD pada “kertas merah tua dari senja” hingga puisi akan terus dituliskan di atas hamparannya. Pada puisi berikutnya, yaitu “Di Ruang Baca”, SD semakin mendesak pembaca untuk larut mengiyakan bahwa “hari-hari yang kadang putih” merupakan pemandangan dari mata penyair untuk diterima oleh kita juga. Mengapa bisa demikian? “Karena waktu yang tak pernah bosan // menggambar warna pada bayang-bayang”, yang menurut SD terus ada dalam pikirannya.

Sementara itu, dunia dalam puisinya yang berjudul “Monolog” yang menjadi bagian percakapan penyair dengan bathinnya itu memperlihatkan kembali adanya keraguan untuk menyatakan warna apa yang dirasa pas demi mewakili sebuah nasib yang ditanggungnya? Karena bagi SD “bukan berwarna biru, ungu atau hijau abu-abu”. Ini membuat saya sebagai pembaca harus menerawang dan membayangkan apa yang diwakili warna dalam puisi-puisi SD bisa menjadi sebuah tolok-ukur untuk benda-benda yang sifatnya metafisik.

Akan banyak sekali yang ditemukan dari puisi-puisi yang terhimpun dalam Mazmur Musim Sunyi SD ini, yang secara tanpa sadar menggunakan citraan warna-warna untuk menandakan benda-benda. Sebut saja “putih beludru” dalam puisi “Memoar”, “November yang agak ungu” untuk latar waktu pada puisi “Surat Cinta”, “mendengar putih bintang-bintang”, “tahun-tahun adalah kibasan perak warna kelabu yang jadi biru”, “hijau musim di wajahmu yang matang”, “senja tampak marun”, “langit kuning bulan Mei”, “akhirnya datanglah Desember putih”, dan masih banyak lagi yang lainnya yang kemudian dapat disandingkan dengan penanda waktu.

Mungkinkah SD sedang berusaha meneguhkan dirinya lewat warna-warna yang ada di dunia ini? Agar tidak serta-merta warna-warna tersebut hanya menjadi identitas sebuah produk yang dapat dijual sebagai dagangan semata. Semisal menjadi wilayah fashion, trend, atau hasil industri dan pasaran lainnya lagi. Mungkin puisi yang langsung diberi judul “Elegi Kirmizi” akan memberi sedikit peluang dalam menemukan di mana SD sebagai penyair mengandaikan hidup dirinya “sepekat malam”, hingga pikirannya terobsesi warna-warna di luaran dunia sana.

Lalu perhatian saya berikutnya sebagai pembaca, meyakini latar waktu dalam puisi-puisi SD memiliki peranan ganda yang tidak hanya menjadi durasi, melainkan menjadi ruang beralusi. Jelasnya: “selalu punya dinding yang senantiasa menggambar waktu” untuk dipandangi, dibandingkan kembali bahkan diputar ulang sebagai peristiwa baru lagi untuk dinikmati.

Nama-nama bulan dalam perkalenderan pun banyak diseret oleh SD sebagai sejumlah metafor yang bisa dicampur-baurkan dengan warna-warna, menjadi semacam impressi. Nyanyian Desember adalah puisi yang paling mengesankan semua itu, baik dilihat pada obsesinya pada warna yang terus dihadirkan oleh sang penyairnya, juga latar waktu sebagai alusi. Secara sengaja atau tak sengaja, puisi-puisi SD merupakan bagian dari representasi dari keadaan jiwanya dalam menangkap fenomena di sekitarnya, yang dalam hal ini dituangkan lewat penanda pada jenis warna-warna yang begitu sangat dominan di sebagian besar puisi-puisinya dalam buku Mazmur Musim Sunyi. Kemungkinan SD mengirim lambang-lambang tersebut untuk memperkokoh kelangsungan pilihan katanya.

Cermati saja, betapa sering SD mewakilkan dirinya sebagai penyair dan sebagai seseorang yang senantiasa menghasilkan sebuah karya, yang berusaha bahkan bersaing dengan dirinya sekalipun, dan kadang penuh “kebirahian”. Hingga nampak, misalnya, pada disandingkannya dengan kata “senja”, terus dengan “kata-kata pertama hawa”, dan sebagainya. Barangkali hal itu disadari oleh SD sebagai penyair, namun bisa jadi alam bawah sadar-nya lah yang membimbing dan menuntunnya.

Sementara itu, warna biru, yang menggeliat di sejumlah nafas puisi-puisinya, memberi kesan menenangkan hingga tercapailah “takdir yang bukan biru”. Sehingga SD sebagai penyair meneguhkan dirinya akan nasibnya yang tidak pernah tenang, tidak pernah banyak harapan seperti tergambar dalam perlambang warna ungu, namun juga tak ada keinginan untuk hampa sebagaimana tercermin dalam perlambang “hijau yang abu-abu”.

Ada baiknya saya akan memberikan beberapa pemahaman saya sebagai pembaca akan warna-warna dalam puisi-puisi SD tersebut sebagai sesuatu yang memiliki ruang jiwa yang dapat kita duga. Misalnya pada warna hijau yang selalu mengesankan suatu keinginan, meski di dalamnya ada ketabahan dan kekerasan hati. Sementara untuk warna coklat seringkali memperlihatkan kondisi perebutan, yang kurang toleran, keadaan pesimis pada masa depan adalah wataknya. Dan terakhir, yaitu warna ungu, menjadikan semacam bagian dari bauran warna merah dan biru sebagai ke-erotis-an, dan selalu mempercayai banyak harapan.

Dari pendekatan inilah, saya sebagai pembaca, bisa menarik-ulur apa yang sering diandaikan penyair, yang dalam hal ini SD, untuk melekatkan citraan warna sebebas-suka pada benda-benda yang ada di ruang sekitarnya. Tidak hal yang ganjil, sebenarnya, warna-warna tersebut menjadi semacam jurus, karena beberapa penyair sebelumnya juga menggunakannya. Meski dalam hal ini, rimba warna dalam puisi-puisi SD begitu kentara dan terkonsentrasi begitu kuatnya. Demikianlah pembacaan saya atas buku puisi Sulaiman Djaya, Mazmur Musim Sunyi, sesuai dengan fokus dan tafsir saya yang melihat dan mencermatinya pada “kekhususan” SD sebagai penyair ketika menggunakan perlambang warna-warna dan bulan-bulan dalam perkalenderan. Dalam hal yang demikian itu, SD menuliskan kilauan-kilauan puisi-puisinya lewat dendang dan nyanyian yang sunyi, namun sekaligus bergairah.

*Penyair

Sumber: Tabloid Banten Muda Edisi 17, Juni 2013

Tafsir Mazmur Musim Sunyi




“Di antara kau dan aku, ada kematian yang telanjang” (Sulaiman Djaya, Rubayyat Dua Matsnawi)

Oleh Lutfi Mardiansyah*

Kamis tanggal 18 April 2013 yang lalu, sekitar pukul setengah sebelas sebelum dzuhur, saya menembus hujan sendirian dari Jatinangor menuju Bandung untuk menghadiri acara launching buku kumpulan puisi Mazmur Musim Sunyi karangan penyair asal Banten, Sulaiman Djaya di Auditorium B FPBS UPI. Begitu sampai, sebelum masuk ruangan, saya membeli dulu buku tersebut serta mengambil makalah dari dua pembicara, yakni Faisal Syahreza dan Heri Maja Kelana. Saya telat beberapa menit, diskusi telah dimulai. Saya mengambil tempat duduk di sudut kiri dan mulai memperhatikan jalannya diskusi.

Alih-alih fokus pada pembahasan buku tersebut oleh kedua pembicara, saya malah memperhatikan ruangan tempat acara tersebut digelar. Ruang yang elegan. Full AC. Betapa nikmatnya di sini. Di kampus saya sendiri, tidak pernah ada acara seperti ini. Diskusi pun hanya melingkar di selasar koridor kampus, itu pun susah sekali mencari kawan berdiskusi. Mahasiswa kuliah dan pulang. Kampus sepi.

Acara terus berjalan. Selesai pembahasan dari kedua pembicara, kemudian dibuka sesi tanya jawab. Pada satu giliran saya ditunjuk untuk bertanya. Maka saya bertanya. Kemudian acara diakhiri dengan pembacaan puisi. Saya juga diminta untuk membaca puisi. Maka saya membaca puisi.

Singkat hikayat, seusai acara saya kembali pulang ke Jatinangor dengan menumpang angkot Cicaheum-Ledeng hingga terminal Cicaheum, lalu dilanjut dengan bis jurusan Bandung-Cirebon. Di dalam bis, di Smoking Area saya buka kembali buku Mazmur Musim Sunyi. Saya menemukan puisi berjudul “Monolog”. Ada bagian menarik di puisi itu, seperti berikut:

Saya tahu seorang penyair harus belajar
menulis puisi yang kata pertamanya bukan aku.

Saya merenungi kalimat tersebut. Seorang penyair harus belajar menulis puisi yang kata pertamanya bukan aku. “Aku” ini, aku sebagai kediriankah? Jika memang demikian, saya setuju. Penyair harus bisa menulis puisi yang tidak hanya berkutat dengan kediriannya, sebab ada banyak hal di luar diri yang juga penting dan esensial untuk dituliskan. Hampir selalu penyair menulis puisi awalnya dengan tema-tema kedirian. Abang kita itupun, Chairil Anwar, banyak menulis puisi tentang kedirian. Tetapi jika melulu bergulung-tema di situ, akan jadi belenggu sendiri, belenggu yang menirai pandangan si penyair dari dunia di luar dirinya.

Saya lanjut membaca lagi dan menemukan puisi dengan judul “Rubayyat Dua Matsnawi”. Puisi ini yang saya baca di diskusi tadi. Larik pertama yang mengawali puisi ini mengejutkan saya, begini bunyinya:

Di antara kau dan aku, ada kematian yang telanjang,

Begini cara saya menafsirkan larik tersebut, pertama-tama saya meletakkan diri saya sebagai aku-lirik, maka jadilah aku-Lutfi atau katakanlah aku-lelaki, dengan begitu kau-lirik yang muncul pada larik tersebut saya bayangkan sebagai kau-perempuan, yang kemudian meletakkan relasi aku-kau ini sebagai relasi jantan-betina, lelaki-perempuan, dapat konteks hubungan apapun, cinta misalnya. Lalu diksi “telanjang” itu saya baca sebagai sebuah kondisi “terbuka” yang mengakibatkan tersingkapnya segala yang tersembunyi. Maka saya bayangkan tubuh telanjang, tentu saja tubuh perempuan, supaya lebih bergairah. Ketika seorang perempuan misalnya, dalam keadaan mengenakan pakaian, ada bagian-bagian tertentu dari tubuhnya yang tak dapat kita terawang, sebabnya jelas karena terhalang oleh pakaian yang ia kenakan. Tapi cobalah lepas segala pakaian itu dan perempuan tersebut berdiri telanjang di depan kita, maka bagian-bagian yang tertutup tadi akan dapat kita pandang, misalnya buah dadanya, putingnya, perutnya, rambut kemaluannya, dan lain-lain, dan lain-lain.

Mungkin akan timbul gugatan, “itu aurat!” Nah, bagus. “Aurat” ini saya tarik menjadi padanan “hakikat”. Ketika seseorang telanjang, maka tampaklah auratnya. Berpadan dengan ketika seseorang telah disingkapkan hijabnya, maka tampaklah hakikatnya.

Kemudian soal diksi “kematian” yang dipasangkan dengan “telanjang” tersebut, menjadi terbaca sebagai “hakikat kematian”. Kematian yang dicirikan dengan hilangnya nyawa, kadang oleh sebagian orang dipandang sebagai berakhirnya kehidupan. Betulkah sampai pada kematian kehidupan itu berakhir? Justru kematian hanya gerbang, jalan yang membukakan “aurat” ke kehidupan yang sesungguhnya, yang abadi dan kekal, yang tak tersentuh oleh kesementaraan.

Setelah menafsirkan seperti itu, saya jadi mengubah subjek aku-kau sebelumnya, aku-lelaki dan kau-perempuan menjadi aku-makhluk dan kau-Khalik, yang jika keduanya ingin patrap dalam makrifat, tentu harus melewati jalan kematian terlebih dahulu, jalan yang akan menyingkap “aurat” kehidupan yang sesungguhnya.

Puisi yang sekilas seperti puisi cinta ini mendadak menampakkan wajah lain kepada saya: wacana teologi, wabil khusus ihwal sufisme. Saya tahu penyairnya, Sulaiman Djaya, adalah salah satu pemerhati tarekat yang hafal betul wacana-wacana tersebut. Memang kita disuguhi puisi-puisi cinta lembut di dalam Mazmur Musim Sunyi ini, tetapi puisi-puisi itu tidak lantas berhenti sampai di situ. Tidak, puisi cinta selalu menyelam lebih dalam. Lebih dalam lagi.

*Penyair, tinggal di Sukabumi (Sumber: Rima News, Mon, 29/04/2013 – 09:05 WIB)