Senin, 04 Juli 2016

Salman Al-Muhammadi, Bangsawan Persia yang Berkelana ke Madinah


Salman Al-Farisi (yang kemudian disebut sebagai Salman Al-Muhammadi dan disebut oleh Rasulullah sebagai ahlulbaitnya) adalah bangsawan dari Persia yang menganut agama Majusi. Namun dia tidak merasa nyaman dengan agamanya. Pergolakan batin itulah yang mendorongnya untuk mencari agama yang dapat menentramkan hatinya. Ia menceritakan riwayat dan kisah hidupnya sebelum menjadi seorang muslim kepada Abdullah bin Abbas.

Ia berkata bahwa ia dilahirkan dengan nama Persia, Rouzbeh, di kota Kazerun, Fars, Iran. Ayahnya adalah seorang Dihqan (kepala) desa. Dia adalah orang terkaya di sana dan memiliki rumah terbesar. Ayahnya menyayangi dia, melebihi siapa pun. Seiring waktu berlalu, cintanya kepada Salman semakin kuat dan membuatnya semakin takut kehilangan Salman. Ayahnya pun menjaga dia di rumah, seperti penjara.

Ayah Salman memiliki sebuah kebun yang luas, yang menghasilkan pasokan hasil panen berlimpah. Suatu ketika ayahnya meminta dia mengerjakan sejumlah tugas di tanahnya. Tugas dari ayahnya itulah yang menjadi awal pencarian kebenaran. Ia berkisah:

Ayahku memiliki areal tanah subur yang luas. Suatu hari, ketika dia sibuk dengan pekerjaannya, dia menyuruhku untuk pergi ke tanah itu dan memenuhi beberapa tugas yang dia inginkan. Dalam perjalanan ke tanah tersebut, saya melewati gereja Nasrani. Saya mendengarkan suara orang-orang bersembahyang di dalamnya. Saya tidak mengetahui bagaimana orang-orang di luar hidup, karena ayahku membatasiku di dalam rumahnya! Maka ketika saya melewati orang-orang itu (di gereja) dan mendengarkan suara mereka, saya masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan.

Ketika saya melihat mereka, saya menyukai ibadah mereka dan menjadi tertarik terhadapnya. Saya berkata (kepada diriku), ‘Sungguh, agama ini lebih baik daripada agama kami’.

Salman adalah contoh manusia yang memiliki pemikiran yang terbuka, bebas dari taklid buta. “Saya tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam. Saya tidak pergi ke tanah ayahku.” Dan ketika pulang, ayahnya bertanya. Salman pun menceritakan bertemu dengan orang-orang Nasrani dan mengaku tertarik. Ayahnya terkejut dan berkata: “Anakku, tidak ada kebaikan dalam agama itu. Agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik.” “Tidak, agama itu lebih baik dari milik kita,” tegas Salman.

Ayah Salman pun bersedih dan takut Salman akan meninggalkan agamanya. Jadi dia mengunci Salman di rumah dan merantai kakinya. Salman tak kehabisan akal dan mengirimkan sebuah pesan kepada penganut Nasrani, meminta mereka mengabarkan jika ada kafilah pedagang yang pergi ke Suriah. Setelah informasi didapat, Salman pun membuka rantai dan kabur untuk bergabung dengan rombongan kafilah.

Ketika tiba di Suriah, dia meminta dikenalkan dengan seorang pendeta di gereja. Dia berkata: “Saya ingin menjadi seorang Nasrani dan memberikan diri saya untuk melayani, belajar dari Anda, dan beribadah dengan Anda.” Sang pendeta menyetujui dan Salman pun masuk ke dalam gereja. Namun tak lama kemudian, Salman menemukan kenyataan bahwa sang pendeta adalah seorang yang korup. Dia memerintahkan para jemaah untuk bersedekah, namun ternyata hasil sedekah itu ditimbunnya untuk memperkaya diri sendiri.

Ketika pendeta itu meninggal dunia dan umat Nasrani berkumpul untuk menguburkannya, Salman mengatakan bahwa pendeta itu korup dan menunjukkan bukti-bukti timbunan emas dan perak pada tujuh guci yang dikumpulkan dari sedekah para jemaah. Setelah pendeta itu wafat, Salman pun pergi untuk mencari orang saleh lainnya, di Mosul, Nisibis, dan tempat lainnya. Pendeta yang terakhir berkata kepadanya bahwa telah datang seorang nabi di tanah Arab, yang memiliki kejujuran, yang tidak memakan sedekah untuk dirinya sendiri.

Salman pun pergi ke Arab mengikuti para pedagang dari Bani Kalb, dengan memberikan uang yang dimilikinya. Para pedagang itu setuju untuk membawa Salman. Namun ketika mereka tiba di Wadi Al-Qura (tempat antara Suriah dan Madinah), para pedagang itu mengingkari janji dan menjadikan Salman sebagai seorang budak, lalu menjual dia kepada seorang Yahudi.

Singkat cerita, akhirnya Salman dapat sampai ke Yatsrib (Madinah) dan bertemu dengan rombongan yang baru hijrah dari Makkah. Salman dibebaskan dengan uang tebusan yang dikumpulkan oleh Rasulullah SAW dan selanjutnya mendapat bimbingan langsung dari beliau. Betapa gembira hatinya, kenyataan yang diterimanya jauh melebihi apa yang dicita-citakannya, dari sekadar ingin bertemu dan berguru menjadi anugerah pengakuan sebagai muslimin di tengah-tengah kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang disatukan sebagai saudara.

Kisah kepahlawanan Salman yang terkenal adalah idenya membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam Perang Khandaq, sementara Imam Ali bin Abi Thalib dipercaya sebagai komandan. Ketika itu Madinah akan diserang (diinvasi dan diagressi) pasukan Quraisy yang mendapat dukungan dari suku-suku Arab lainnya yang berjumlah 10.000 personel. Pemimpin pasukan agressor itu adalah Abu Sufyan. Ancaman juga datang dari dalam Madinah, di mana penganut Yahudi dari Bani Quraidhzah akan mengacau dari dalam kota.

Rasulullah SAW pun meminta masukan dari sahabat-sahabatnya bagaimana strategi menghadapi mereka. Setelah bermusyawarah akhirnya saran Salman Al-Farisi atau yang biasa dipanggil Abu Abdillah dan Salman Al-Muhammadi diterima. Strategi Salman memang belum pernah dikenal oleh bangsa Arab pada waktu itu. Namun atas ketajaman pertimbangan Rasulullah SAW, saran tersebut diterima.

Atas saran Salman itulah perang dengan jumlah pasukan yang tak seimbang dimenangkan kaum Muslimin. Setelah meninggalnya Nabi Muhammad saw, Salman dikirim untuk menjadi gubernur di daerah kelahirannya di Persia (Ian), hingga dia wafat. (Foto: Isfahan tempat kelahiran Salman Al-Farisi, Iran) 


Rabu, 04 Mei 2016

Putri Susan dari Romawi (Rum/Bizantium)


oleh Babai Amuli

Dalam mimpinya, Putri Susan dari Rum (Romawi/Bizantium) dinikahkan dengan Imam Hasan Zaki Al-Askari (Imam Ke-11) oleh Muhammad saw dan Isa Al-Masih putra Maryam yang disucikan. Putri Susan (Narjis atau Malikah) putri anaknya Kaisar Rum dan keturunan Syam'un (washi-nya Isa Al-Masih as) ini dipercaya sejumlah 'ulama sebagai ibunya Imam Ke-12

Syaikh Shaduq dengan sanad-nya sendiri menukil dari Abul Husain bin Muhammad bin Bahr Syibani, ia berkata: Pada tahun 286 H aku memasuki Karbala dan berziarah ke pusara putra Rasulullah saw (maksudnya Imam Husain). Lalu aku kembali ke Baghdad. Dengan udara yang panas dan menyengat, aku pergi ke kuburan Quraisy. Ketika sampai di pusara Imam Musa Al-Kazhim as yang tanahnya membawa rahmat dan ampunan, aku duduk bersimpuh sambil menangis tersedu-sedu sehingga air mataku menghalangi penglihatannku. Setelah kondisiku kembali seperti semula, aku mulai membuka mataku.

Tiba-tiba aku melihat lelaki tua renta bongkok yang kulit wajah dan tangannya menebal lantaran banyak sujud. Lelaki tua itu berkata: Hai saudaraku, pamanmu berkat rahasia-rahasia ilmu berharga yang tidak dimiliki orang kecuali seperti Salman Al-Farisi yang dua tuan itu memberikan ilmu itu kepadanya –mendapatkan kedudukan yang tinggi. Pamanmu sebentar lagi akan wafat dan sekarang sedang menjalani detik-detik akhir hayatnya. Dan ia tidak mendapatkan seseorang dari keluarganya yang bisa diserahi rahasia-rahasianya. Aku berkata kepada diriku: Betapa berat perjalananku. Aku selalu mencari ilmu kesana kemari dengan menunggangi unta dan keledai. Sekarang aku mendengar satu ucapan dari orang tua ini yang menunjukkan bahwa ia mempunyai ilmu yang banyak dan pengaruh yang besar.

Aku bertanya kepada lelaki tua itu, siapakah dua tuan yang Anda maksud? Mereka berdua adalah dua bintang yang bersemayam di bawah tanah di Surro Man Ro'a (Samarro' -Samarra). Demi kecintaan dan kedudukan agung dua pembesar ini, aku bersumpah akan selalu mencari ilmu dan aku bersumpah akan menjaga rahasia-rahasia mereka. Jika perkataanmu benar, tunjukkan peninggalan dan bukti-bukti para perawi hadis yang ada di tanganmu. Setelah orang tua itu mengoreksi kitab-kitabku dan melihat riwayat-riwayat mereka, ia berkata: Perkataanmu benar. Aku adalah Basyar bin Sulaiman Nakhas, cucu Abu Ayub Anshari, sahabat Abul Hasan dan Abu Muhammad (Imam Ali Al-Hadi dan Imam Hasan Zaki Al-Askari as ) dan aku di Surro Man Ro'a (Samarra) bertetangga dengan mereka. Sekarang hormatilah saudara seagamamu yang menyebut-nyebut segelintir dari keutamaan dan kemuliaan para pembesar tadi.

Imamku Abul Hasan, Ali bin Muhammad Al-Askari as mengajariku hukum jual-beli budak dan aku tidak pernah melakukan itu kecuali atas izin beliau. Aku selalu menjauhkan diri dari syubhat sampai akhirnya aku menguasai permasalahan-permasalahan itu dan bisa membedakan yang haram dari yang halal.

Pada suatu malam, di Surro Man Ro'a aku sedang sendirian di rumah. Tiba-tiba terdengar ketokan pintu. Aku segera membukanya. Kemudian Kafuru Khodim (pembantu Imam Ali Al-Hadi as) sudah berdiri di depan pintu dan mengajak aku untuk menemui beliau. Aku bersiap-siap dan bergegas pergi. Setelah aku sampai di rumah beliau, tampak dari balik jendela Abu Muhammad sedang berbicara bersama anak dan saudarinya (Hakimah). Setelah aku duduk, beliau berkata: Hai Basyar, engkau adalah putra dari Anshar dan kecintaan kepada para imam selalu tampak di tengah-tengah kalian dari generasi ke generasi yang lain. Dan kami percaya kepada kalian. Aku melihat engkau lebih utama dari yang lain dan lebih cepat mendapatkan hal itu. Banyak rahasia yang aku sampaikan kepadamu dan aku akan mengirimmu untuk membeli budak.

Saat itu beliau menulis surat dengan bahasa Rum lengkap dengan tanda tangannya dan memberikan 220 Dinar kepadaku yang terbungkus dalam kain kuning. Beliau berkata: Ambilah surat dan uang ini dan pergilah ke Baghdad pada hari ini (beliau telah menentukan harinya). Ketika terbit matahari, pergilah ke pinggir Furot (Sungai Eufrat). Ketika perahu pembawa tawanan dan budak sampai ke pinggir, engkau akan melihat satu kelompok dari anak buah khalifah Bani Abbasi dan sekelompok pemuda Arab (Irak) yang tawanan-tawanannya berada di bawah kekuasaan mereka.

Di saat itu, pasanglah strategi yang bagus dan jagalah penjual budak yang bernama Umar bin Yazid Nakhasi dengan ketat. Ketika ia menawarkan budak-budaknya kepada para pembeli, belilah darinya budak yang pernah aku ceritakan kepadamu. Budak itu memakai dua helai kain sutra dan tidak mau dipegang atau membuka kepala dan wajahnya serta tidak mau melihat para pembeli. Nakhas (penjual budak) memukuli budak itu, ia menjerit dengan khas suara Rum-nya. Ketahuilah bahwasanya ia sedang berbicara demikian dengan bahasa Rum: Ah....! Kehormatanku telah diinjak-injak.

Salah satu pembeli mengatakan: Aku berani membeli budak ini seharga 300 Dirham, sebab harga dirinya telah membuat aku lebih tertarik. Budak itu menjawabnya dengan bahasa Arab: Seandainya engkau bertampang seperti Sulaiman dan meraih kerajaannya, kemudian datang kepadaku, aku tetap tidak akan suka kepadamu, maka jangan sia-siakan hartamu. Nakhas berkata kepada budak itu: Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untukmu. Engkau tidak suka setiap pembeli padahal aku tidak punya jalan lain kecuali harus menjualmu. Budak itu menjawab: Kenapa kau terburu-buru? Pasti ada pembeli yang cocok dengan keinginanku sehingga aku bisa setia dan percaya kepadanya.

Ketika percakapan sampai di sini, pergilah kau ke pemilik budak itu dan katakanlah: Saya membawa satu surat dari seorang pembesar mulia yang ditulis dengan bahasa dan tulisan yang penuh kecintaan dan kelemahlembutan dimana beliau dalam surat ini telah menggambarkan kemuliaan, kedermawanan dan kesetiaan dirinya. Di saat itu, berilah surat ini kepada budak itu. Jika setelah membaca surat ini, budak itu rela terhadap penulisnya, maka katakan kalau engkau diutus oleh pembesar tadi untuk membeli budak itu.

Basyar bin Sulaiman berkata: Semua yang diperintahakan Imamku, Imam Al-Hadi as berkenaan dengan budak itu aku lakukan. Ketika budak itu melihat surat Imam Al-Hadi (ayahnya Imam Hasan Zaki Al-Askari as) tanpa sadar ia menangis. Lalu berkata kepada Umar bin Yazid: Juallah aku kepada pemilik surat ini dan aku bersumpah jika engkau tidak menjualku kepadanya, akan kumusnahkan diriku.

Basyar berkata: Setelah kejadian ini, aku tawar-menawar dengan penjual budak mengenai harganya sampai ia rela dengan harga yang telah ditentukan oleh Imam Al-Hadi as. Akhirnya, penjual budak itu mengambil uang dariku dan aku mengambil budak itu darinya dalam keadaan senyum. Lalu aku bawa ke Baghdad. Ia kelihatan gelisah dan tidak tenang, lalu mengeluarkan surat Imam dari kantongnya dan diciuminya, diletakkan di dahinya dan diusapkan ke badannya.

Aku berkata kepada budak itu dengan penuh heran: Bagaimana engkau menciumi surat yang pemiliknya tidak kau kenali? Ia menjawab: Engkau belum pernah merasakan keagungan dan kebesaran keluarga para Nabi. Perhatikan pembicaraanku dengan betul sehingga engkau kenal siapa aku! Aku adalah Malikah, putri Yasyu'a, putri Kaisar Rum dan ibuku dari keturunan Hawariyun yang disandarkan kepada Syam'um washinya Nabi Isa as.

Sekarang aku akan membuat engkau terheran-heran dengan masalah ini. Kakekku adalah Kaisar Rum dan aku pada usia tiga belas tahun dikawinkan dengan anak saudaranya. Tiga ratus orang dari cucu Hawariyun, pendeta dan Rahib, tujuh ratus orang dari pegawai dan empat ribu orang dari pembesar kabilah berkumpul di istana. Saat itu Kaisar menyuruh untuk mengambil singgasana yang sudah terhiasi dengan aneka ragam permata di zaman kekuasaannya. Singgasana itu memiliki 40 puluh tangga di mana anak saudaranya duduki di ujungnya.

Di saat inilah salib-salib dipasang, para uskup melingkarinya dan para pendeta membacakan Injil. Tiba-tiba salib-salib itu berjatuhan ke tanah dan kaki-kaki singgasana tadi patah dan keponakan raja itu jatuh tertindih singgasana. Semua pendeta gemetar ketakutan menyaksikan kejadian ini. Pembesar mereka berkata kepada kakekku: Tuanku, maafkan kami atas kejadian ini. Sebab, tampak dari pernikahan ini kejelekan. Kakekku melakukan istikharah, tapi hasilnya buruk. Kemudian berkata kepada para pendeta: Angkatlah singgasana ini untuk yang kedua kalinya dan pasanglah salib-salib itu di tempatnya lalu hadirkan saudara dari mempelai lelaki yang sial sebagai ganti darinya dimana ia yang akan menjadi suami gadis ini. Barangkali nasib baikya bisa menolak dan menepis kejelekan-kejelekan ini.

Perintah kakekku dilakukan, namun kejadian sebelumnya terulangi lagi. Setelah kejadian ini, semua orang balik ke rumahnya masing-masing dan kakekku masuk ke istananya dalam kondisi sedih dan tabir-tabir pada berjatuhan.

Malam itu juga aku bermimpi melihat Nabi Isa as, Syam'um dan sebagian dari Hawariyun berkumpul di istana kakekku dan membangun mimbar persis di tempat singgasana kakekku. Saat itulah Nabi Muhammad saw beserta rombongan pemuda dan keluarganya masuk untuk menemui mereka. Nabi Isa as pergi menyambut beliau dan satu sama lain saling berpelukan. Nabi saw berkata kepada Nabi Isa as: Wahai Ruhullah, kami datang untuk menikahkan Malikah, putri washi-mu, Syam'um dengan anakku (beliau menunjuk Imam Hasan Zaki Al-Askari as, Imam Ke-11, pemilik surat ini).

Setelah itu Nabi Isa menoleh ke arah Syam'um dan berkata: Kebanggaan dua alam telah kau miliki. Adalah kemuliaan bagimu ketika dapat menyambung tali kekeluargaan dengan Muhammad saw. Sya'um menjawab: Ini akan aku lakukan. Di saat itu Nabi saw naik mimbar menyampaikan khotbahnya dan menikahkan aku dengan Imam Hasan Zaki Al-Askari as, sementara Nabi Isa as dan keluarga Rasulullah saw serta Hawariyun menjadi saksi pernikahan itu.

Ketika aku bangun tidur, karena aku kawatir akan terbunuh, aku tidak ceritakan mimpiku kepada ayah dan kakekku dan rahasia ini aku simpan dalam dadaku. Bara cinta kepada Imam Hasan Al-Askari as membakar hatiku sampai aku lupa makan dan minum. Setiap hari badanku bertambah kurus sehingga aku jatuh sakit. Kakekku memanggil semua dokter Rum utuk mengobatiku, namun mereka tidak berhasil. Setelah kakekku merasa putus asa dengan pengobatanku, pada suatu hari ia berkata kepadaku: Sayangku, apakah hatimu tidak ingin harta hingga aku penuhi?

Aku menjawab, kakekku sayang, aku sengaja tutup pintu-pintu pengobatanku. Jika engkau perintahkan mereka untuk menghentikan penyiksaan terhadap para tawanan Muslim yang ada di penjara-penjaramu dan kau lepaskan belenggu dan rantai-rantai dari tangan dan kaki mereka serta kau keluarkan hukum pembebasan mereka, insya Allah Nabi Isa dan ibunya akan memberikan kesembuhan kepadaku.
 
Setelah kakekku menuruti permintaanku, aku sedikit mendapatkan kesembuhan dan sedikit-sedikit aku mulai makan. Kakekku sangat senang dan melakukan penghormatan kepada para tawanan. Empat malam setelahnya, aku bermimpi melihat Sayyidah Fatimah as bersama Sayyidah Maryam putri Imran dan seribu bidadari surga datang menjengukku. Sayyidah Maryam berkata kepadaku: Wanita mulia ini adalah Sayyidah Zahra' as, ibu suamimu Imam Hasan Al-Askari. Aku pegang tangan Zahra' yang suci sambil aku meneteskan air mata.

Aku katakan kepadanya: Anakmu Hasan Al-Askari bersikap dingin terhadap diriku dan tidak mau melihatku. Fatimah Az-Zahra' as menjawab: Bagaimana anakku mau menemuimu sementara kau menyekutukan Tuhan dan mengikuti agama Tarsayan yang saudariku Maryam merasa tidak menerima agama ini dan agamamu. Kalau engkau ingin diridhai Allah, Nabi Isa dan Maryam, dan Imam Hasan Al-Askari as mau melihatmu, maka katakan: "Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah." Ketika aku mengucapkan kalimat ini, pemimpin wanita alam itu langsung memelukku dan aku gembira sekali. Lalu beliau berkata kepadaku: Sekarang tunggulah anakku, aku akan kirim kepadamu.

Selepas bangun tidur, aku berkata kepada diriku sendiri: Betapa nikmatnya bertemu dengan Abu Muhammad as. Malam berikutnya, aku bermimpi melihat Imam Hasan Al-Askari as datang kepadaku dimana seakan aku berkata kepada beliau: Hai kasih pujaanku, setelah hatiku kau jadikan tawanan cintamu, kenapa aku tidak boleh menemuimu? Beliau menjawab: Ketidakhadiranku karena kemusyrikanmu. Nah sekarang kau sudah Muslim, maka setiap malam aku akan hadir di sisimu sampai Allah Yang Maha Kuasa menyatukan aku dengan dirimu. Sejak itu sampai sekarang beliau selalu menemuiku.

Basyar berkata: Aku bertanya kepadanya (Malikah): Bagaimana engkau bisa berada di tengah-tengah para tawanan? Ia menjawab: Imam Hasan Al-Askari as pada suatu malam pernah berkata kepadaku: Kakekmu pada suatu hari akan mengirim pasukan untuk memerangi kaum Muslim dan engkau sebagai budak-tanpa dikenali oleh mereka- akan bergabung dengan mereka. Beliau menentukan kepadaku jalan yang harus dilewati, lalu aku menurutinya.

Para tentara Islam berhadap-hadapan dengan kami dan akhirnya kami menjadi tawanan mereka. Jadi, singkatnya, aku adalah orang yang pernah engkau lihat dan sampai sekarang tidak satupun selain engkau yang tahu kalau aku putri Kaisar Rum. Dalam kelompok tawanan, aku bergabung dengan seorang lelaki tua. Dia bertanya namaku, aku jawab: Namaku Narjis. Nama ini adalah nama seorang budak, sahut lelaki itu.

Basyar melanjutkan: Aku berkata kepada budak itu, menakjubkan sekali, engkau yang dari Rum bisa berbahasa Arab. Ia Menjawab: Kakekku atas dasar kecintaannya kepadaku betul-betul mendidikku (mengajariku setiap ilmu). Oleh karena itu, ia menunjuk perempuan penerjemah untuk mengajariku bahasa Arab pagi dan malam, sehingga akhirnya aku menguasai bahasa tersebut.

Basyar berkata: Aku membawa wanita mulia ini ke Surro Man Ro'a (Samarra) dan menyerahkannya kepada Imam Al-Hadi as. Beliau memandangi wanita itu sambil berkata: Lihatlah, bagaimana Allah SWT menunjukkan kepadamu tentang kemuliaan agama Islam dan kerendahan agama Nasrani serta keagungan ahlul baiyt as? Ia menjawab: Wahai cucu Rasulullah, bagaimana aku bisa menjelaskan satu perkara yang Anda lebih tahu dariku. Imam Al-Hadi as menjawab: Aku ingin menyenangkan kamu dengan dua hal. Apakah hadiah 10 ribu Asyrafi (mata uang) lebih menggiurkan dirimu, ataukah kamu lebih bangga dengan upah yang kekal?

Ia menjawab: Berilah aku upah yang membuatku gembira selama-lamanya.

Kamu akan dikaruniai anak yang akan menguasai dunia dan menghiasinya dengan keadilan dimana sebelumnya sudah penuh dengan kelaliman.

Anak yang akan menjadi kebangganku dari keturunan siapa?

Dari orang yang Rasulullah saw pada malam tertentu dan tahun tertentu di Rum telah memikatkan kamu dengannya.

Apakah dari keturunan Isa dan washi-nya?

Isa dan washi-nya menikahkan kamu dengan siapa?

Menikahkan aku dengan anak Anda, Imam Hasan Al-Askari as?

Apakah kau kenal anakku?

Sejak malam itu dimana aku menjadi Muslim di tangan wanita termulia (Zahra' as) ia setiap malam selalu hadir di sisiku.

Kemudian Imam Al-Hadi as menyuruh Kafur, pembantunya, untuk memangil Hakimah (saudari beliau). Setelah Hakimah hadir, Imam Al-Hadi as berkata kepadanya: Inilah budak yang sering aku ceritakan, bawalah ia ke rumah dan ajarilah hukum-hukum agama. Dialah yang akan menjadi istri Imam Hasan Al-Askari dan ibu Al-Qoim (Imam Zaman as).
 
Semua yang telah diceritakan di atas adalah keseluruhan dari kejadian yang diriwayatkan oleh Syaikh Shaduq, Tabari dan Syaikh Thusi berkenaan dengan nama dan nasab istri Imam Hasan Al-Askari as. Dari cerita ini kita bisa menarik beberapa poin di bawah ini:

[1] Nama wanita itu adalah Malikah dan ayahnya bernama Yasyu'a, anak Kaisar Rum.
[2] Pada suatu malam, Imam Al-Hadi as, anaknya (Imam Hasan Al-Askari as) dan saudarinya (Hakimah) bersama-sama musyawarah tentang pernikahan Imam Hasan Al-Askari. Untuk melakukan pekerjaan ini, mereka mengirim seseorang kepada Basyar bin Sulaiman Nakhas.
[3] Wanita itu sudah balig dan bahkan usianya sudah mencapai 13 tahun.
[4] Dia wanita pintar, ahli sastra dan bisa berbahasa Arab.
[5] Waktu menjadi tawanan ia sudah Muslim.
[6] Imam Hadi as menyerahkan wanita itu kepada Hakimah supaya diajari hukum-hukum agama.

Sabtu, 30 April 2016

Husain Pewaris Adam, Sketsa Ali Syari’ati


Kesadaran, kepekaan, keberanian berpikir, keluhuran jiwa serta kekuatan kalbu –semua ini adalah sifat-sifat agung manusia yang ditemukannya pada pribadi ‘Ain Al-Quzat dan didambakannya sendiri. Dan dengan ketajaman rasanya dia sadar bahwa dia pun akan mengalami nasib seperti ‘Ain Al-Quzat, mati dini dalam usia muda. Karena itu, tidak mengherankan, dia sudah siap menghadapi setiap kemungkinan dan tidak pernah gentar mengemukakan pendapatnya.

Tetapi dia tahu, bahwa dalam masyarakat yang terdiri atas golongan tertindas dan terhina, dalam masa kejahilan, di tengah gurun kealpaan atau lebih tepat lagi, dalam masa di mana orang mengambil sikap melupakan dan mengabaikan kebenaran ―kesadaran dan kepekaan tidak lagi identik dengan keberanian berpikir dan kekuatan kalbu. Sebaliknya, mutu intelektualitas telah jadi identik dengan ambisi dan hasrat akan kedudukan. Keadaan ini justru menyebabkan penindasan dan penghinaan terhadap mereka yang sadar.

Dia (Ali Syari’ati), dengan senyum pahit, mengecam para intelektual yang tidak memiliki keberanian, bahkan malah turut serta dalam korupsi, mereka senantiasa menanti bingung di persimpangan jalan dan tidak berani maju menghadapi ujian karena takut gagal. Baginya, jalan yang telah dipilihnya bukan merupakan “langkah pertama”, melainkan seluruh hidupnya. Sedangkan sikap bimbang ragu adalah sikap penghambaan intelektual, yang secara metaforis kita sebut sebagai “intelektualisme”.

Seluruh hidupnya yang singkat tetapi berarti telah digunakannya untuk berjuang secara berani, dan dengan segenap daya dan kemampuan menentang lawan pikiran dan kemanusiaan yang kawakan ini. 

Sementara itu, dia melancarkan perlawanan terhadap kebiasaan untuk menganggap sesuatu yang aktual sebagai hal yang normal dan wajar sehingga dirasakan tidak perlu menggantinya dengan yang ideal, terhadap pandangan bahwa hidup manusia adalah sia-sia dan tanpa arti –terhadap kedangkalan dan kesombongan, terhadap candu yang bukan saja telah merasuk sebagian terbesar umat, tetapi bahkan sekelompok pengawal agama tauhid, melenakan mereka dalam keadaan antara tidur dan jaga, dalam lamunan hampa dan telah menyelewengkan mereka dari jalan yang benar, yaitu jalan yang ditandai oleh jatuh-bangun ―jalan yang menuntut keyakinan serta hati-nurani yang waspada.

Dia melancarkan jihad terus-menerus terhadap kekejian zaman dan masyarakat kita, masyarakat yang telah layu akarnya. Maka untuk menyirami akar yang telah layu itu seruannya harus dikorbankan, termasuk Ali Syari’ati sendiri, dengan cara menjadi syahid!

“Aku tidak bisa tinggal diam dan tidak mengatakan sesuatu. Bila aku diam, rasanya aku bagaikan seorang yang sedang sekarat yang tahu bahwa kedamaian dan keselamatan sedang menantinya, yang telah jemu akan kesukaran hidup, yang tidak dapat berbuat lain terkecuali menanti sepanjang hayat...Tidakkah kau lihat betapa nikmat dan damainya kematian seorang syahid? Bagi mereka yang terbiasa akan rutinitas harian, kematian merupakan tragedi yang seram, penghentian yang dahsyat dari segalanya: lenyap dalam ketiadaan. Alangkah agungnya mereka yang memperhatikan amar yang menakjubkan ini dan mengamalkannya ― “Matilah sebelum engkau mati” (Kavir, hal. 55).

Setiap orang yang mengenal Dr. Syari’ati tahu benar bahwa mempelajari dan membaca karya serta buah pikirannya bukan saja bermanfaat tetapi juga bahwa cara hidupnya merupakan refleksi pandangan dunianya yang tepat dan mendalam, seberkas sinar yang memancar dari imannya. Berikut ini akan kami kemukakan sekadar garis besar saja, suatu sketsa kehidupan yang sarat dengan amal, kegiatan, keyakinan, cinta serta tanggungjawab ―kehidupan seorang manusia yang sadar dan penuh bakti. Atas penyajian kami yang kurang memadai ini kami mohon maaf kepadanya dan kepada sahabat-sahabatnya.

SKETSA HIDUP ALI SYARI’ATI
Sungguh, yang menjadi masalah baginya bukanlah hidup itu sendiri, melainkan bagaimana melangsungkannya dan apa tujuannya. Karena itulah sejak awal dia sudah bergulat untuk memberi bentuk dan arti bagi hidupnya. Selain itu dia pun menyadari benar, betapa berat amanah yang diwarisinya dari leluhurnya. Dia ingin memikul amanah itu sebaik-baiknya sampai ke tempat tujuan, dan sebagaimana tercatat dalam surat terakhirnya, sekejap pun dia tidak pernah menyia-nyiakan atau membiarkan waktunya berlalu tanpa manfaat dan hasil: 

“Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, yang kasih ajaib-Nya menimbulkan malu dan perih dalam hatiku dan hampir membuat batinku guncang meledak, karena kukira aku tidak pantas untuk itu, telah kutempuh jalan itu sehingga aku tidak dapat membiarkan sekejap pun dari hidupku untuk kesenangan pribadi. Kiranya Allah melimpahkan karunia pertolongan-Nya kepadaku dalam mengatasi kelemahanku, dan adakah nikmat yang lebih besar dari ini, bahwa hidupku yang tadinya tidak akan karuan, ditakdirkan harus begini?” (Dari surat terakhir Syari’ati kepada ayahandanya). 

Hidupnya tidak hanya untuk mendukung amanah yang diwarisinya dan leluhurnya, tetapi juga untuk menuntut kebenaran dan keadilan yang sepanjang sejarah di setiap zaman merupakan amanah mereka yang tertindas, terhina dan teraniaya, amanah yang telah dimanifestasikan sepenuhnya oleh Husain, pewaris Adam, beban yang telah dibawa oleh Zainab ke dalam istana Yazid di Damsyik (Damaskus, Suriah), beban yang semakin hari terasa semakin berat di pundak para pengabdi Allah.

Kesepian, keterasingan, kegagalan, kekecewaan dan penderitaan jelas terlihat di gurun itu berlumur darah; di angkatnya kepalanya di atas gelimang merah syuhada, dan tegak senyap, seorang diri (Husain Pewaris Adam, hal. 16-17). 

Dia meyakininya sebagai warisan filsafat dan iman Islam untuk membangun suatu kesinambungan yang terarah dan mengaliri aneka peristiwa yang telah, sedang dan akan terjadi di berbagai waktu dan tempat. Satu sama lain para syuhada itu dihubungkan oleh kesinambungan ini, mereka lahir dan mereka mati akibat suatu sebab logis dan hukum ilmiah, mereka saling meneruskan serta saling mempengaruhi, dan masing-masing menjadi mata rantai dari suatu rangkaian yang merentang sejak awal kemanusiaan, Adam, hingga berakhirnya sistem kontradiksi dan pertarungan di akhir zaman. Kesinambungan yang logis ini, gerakan maju yang pasti ini, dikenal sebagai sejarah. 

Tidak pernah sekejap pun dia melupakan amanah sejarah yang berat ini, yang diwarisinya dari leluhurnya dan menyinari seluruh hayatnya. Hidupnya bermula di gurun pasir dan berakhir pada saat dia menemukan ideologi historis dan sosial yang utuh, suatu risalah yang merupakan panduan intelektual bagi angkatan muda, suatu usaha menemukan kembali “jalan tengah” yang didambakan zaman kita. Secara sadar dia melangkah sepanjang garis nasib mereka yang menderita kepedihan zaman, maka bertambahlah seorang lagi bilangan para syuhada dalam sejarah ―Suatu esensi suci pantaslah menerima karunia Allah: Tidak setiap batu dan bungkal bisa menjadi marjan dan mutiara. 

Tidaklah kebetulan, sebagaimana halnya banyak tokoh besar di bidang ilmu dan agama, hidup Syari’ati berakar di pedesaan. Dia benar-benar bangga akan leluhurnya, yang merupakan ulama-ulama terkemuka pada masa mereka, karena mereka telah memilih jalan hidup menyepi di gurun Kavir, menghindari hingar-bingar kehidupan kota. Marilah kita ikuti kata-katanya sendiri: 

“Lebih kurang delapan puluh lima tahun yang lalu, sebelum bermulanya Revolusi Konstitusional, kakekku belajar ilmu kalam, filsafat dan fiqh pada pamannya dari pihak ibu, Allamah Bahmanabadi, dan dia biasa terlihat dalam perdebatan filsafat dengan Hakim Asrar. Meskipun tinggalnya jauh dan terpencil di desa Bahmanabad dekat Mazinan, dia terkenal di kalangan terpelajar Teheran, Masyhad, Isfahan, Bukhara dan Najaf. Terutama di Teheran dia dianggap sebagai seorang genius, sehingga Nasiruddin Syah lalu mengundangnya ke ibukota.

Di sana dia mengajar filsafat di madrasah Sipahsalar. Tetapi rupanya hasratnya untuk menyendiri dan menyepi menggetar kuat dalam kalbunya menariknya pulang kembali ke Bahmanabad. Padahal sebenarnya kedudukannya sudah mantap di ibukota, sehingga kalau mau dia bisa memperoleh jabatan, kekuasaan, menjadi tokoh masyarakat serta menikmati kemasyhuran dan pengaruhnya. Namun secara sadar semua itu ditinggalkannya”. 

Banyak yang diperoleh Syari’ati dari leluhurnya: dia belajar filsafat untuk tetap menjadi manusia di tengah-tengah kehidupan yang telah tercemar, di kala terasa sekali betapa sukarnya untuk tetap menjadi manusia, di kala seruan jihad perlu diulang setiap hari, dan di kala jihad tidak mungkin dilancarkan. 

“Akhund Hakim ialah kakekku dari pihak ibu. Alangkah mengasyikkan cerita mereka tentangnya kepadaku. Dari cerita-cerita inilah berasal perasaan yang dalam serta tanpa sadar di lubuk jiwaku...Seakan-akan dapat kulihat diriku hidup dalam dirinya limapuluh atau delapanpuluh tahun yang lalu...dan aku berterima kasih kepadanya karena apa adanya dan karena apa yang dilakukannya” (Kavir, hal. 9, dan seterusnya).

Pamannya dari pihak ibu pun merupakan salah seorang murid terkemuka dari ulama termasyhur, Adib Nisyapuri. Tetapi, setelah belajar fiqh, filsafat dan sastra, dia mengikuti jejak leluhurnya, kembali ke Mazinan. Syari’ati mengambil alih seluruh amanah kemanusiaan dan intelektual yang diwariskan leluhurnya. Dia merasa bahwa mereka tetap hidup dalam dirinya dan menerangi jalan yang ditempuhnya. Namun, ayahandanyalah yang sebenarnya menjadi guru ruhaninya yang utama. Maka jadilah sang anak refleksi yang benderang dari esensi ayahandanya.

“Ayahku merombak tradisi dan tidak pulang kembali ke desa setelah menyelesaikan pelajarannya. Dia tinggal di kota dan berjuang gigih mempertahankan dirinya dengan ilmu, cinta-kasih dan jihad di tengah-tengah gelimang noda kehidupan kota...Diriku adalah hasil keputusannya untuk tetap di kota, dan akulah satu-satunya yang mewarisi semua kekayaan yang ditinggalkannya, harta yang berupa kemiskinan...Akulah pendukung amanah kinasihnya yang teramat berat...(Kavir, hal. 19).

Terutama yang menjadi perhatiannya ialah untuk mengembalikan para remaja terpelajar modern kepada Iman dan Islam, menyelamatkan mereka dari materialisme, pemujaan terhadap Barat dan permusuhan rerhadap agama.

“Ide yang berkembang dalam beberapa tahun belakangan untuk mempergunakan Al-Quran sebagai sarana sentral dalam mengajarkan, mempelajari serta menyiarkan Islam dan Syi’ah, begitupun ide untuk mendirikan suatu sekolah khusus tafsir Al-Quran terutama berasal dari dia” (Syari’ati, Menjawab Beberapa Soal, hal. 162). 

Kami menggarisbawahi pengaruh ayahnya atas diri Syari’ati, karena sebagaimana setiap orang yang mengenal cendekiawan yang berhati mulia ini kiranya bisa menyetujui ini akan membantu kita memahami berbagai dimensi kehidupan Syari’ati. Sekaligus itupun merupakan bukti, bahwa jika seorang genius dan cerdas ditempatkan di bawah asuhan seorang guru yang cakap, bila dia menerima pendidikan dalam kondisi yang memadai, maka dia akan mampu mematahkan batas-batas keawaman, menelanjangi zamannya sendiri. Dia tidak akan sekadar menjadi penerima, melainkan akan tumbuh menjadi sumber yang berwibawa –dia tidak akan pernah bersikap pasif, melainkan akan aktif senantiasa.

Mereka yang mengenal Syari’ati tua dan mengamati aneka dimensi kehidupannya, yaitu dimensi-dimensi kearifan, religius, sosial, politik serta manusiawinya, tahu betul akan pengabdiannya, ketekunannya, daya tahannya, kedalaman pengetahuannya. Mereka pun mengenal tulisan-tulisannya di bidang agama maupun di bidang filsafat, seperti: Khilafah dan Wilayah dalam Al-Quran dan Sunnah; Wahyu dan Kenabian; ‘Ali, Saksi Risalah; Janji Agama-Agama; Guna dan Keperluan Agama; Ilmu Ekonomi Islam, dan terutama Tafsir Modern (Tafsir-i Nuvin)-nya. 

Akhirnya mereka tahu betul akan keberaniannya menentang semua anasir yang membekukan dan membunuh bakat, yang bahkan terdapat di universitas-universitas serta lingkungan Islam. Mereka menyadari peranannya yang penting dalam mengubah metode pendekatan terhadap masalah-masalah Islam dan dalam memilih metode penelitiannya yang tepat di zaman edan ini. Tidak banyak, dewasa ini, bapak dan anak semacam mereka.

“Ayahku membentuk dimensi-dimensi pertama batinku. Dialah yang mula-mula mengajarku seni berpikir dan seni menjadi manusia. Begitu ibu menyapihku, ayah memberikan kepadaku cita kemerdekaan, mobilitas, kesucian, ketekunan, keikhlasan serta kebebasan batin. Dia-lah yang memperkenalkan aku kepada sahabat-sahabatnya ― ialah buku-bukunya; mereka menjadi sahabat-sahabatku yang tetap dan karib sejak tahun-tahun permulaan sekolahku. Aku tumbuh dan dewasa dalam perpustakaannya, yang merupakan keseluruhan hidupnya dan keluarganya.

Banyak hal yang sebetulnya baru akan kupelajari kelak bila aku telah dewasa, melalui rangkaian pengalaman yang panjang serta harus kubayar dengan usaha dan perjuangan yang lama, tetapi ayahku telah menurunkannya kepadaku sejak masa kanak-kanak dan remajaku secara mudah dan spontan. Aku dapat mengingat kembali setiap bukunya, bahkan bentuk sampulnya. Teramatlah cintaku akan ruang yang baik dan suci itu; bagiku ia merupakan sari masa lampauku yang manis, indah, tetapi jauh” (Ali Syari’ati, Menjawab Beberapa Soal, hal. 89). 

Tetapi mereka yang genius dan berbakat selalu mematah batas lingkungan dan menelanjangi zamannya. Seorang genius selalu menganggap kaidah-kaidah yang ada sekadar sebagai titik-tolak untuk lompatan kreatif ke depan. Tidak pernah ia membiarkan diri dikungkung dan dikekang oleh lingkungannya. Syari’ati menyadari benar akan batasan lingkungannya maupun tentang bentuk-bentuk tradisional di sekitarnya. Namun ia tidak akan menyerah. Bahkan ia telah bertekad untuk mengatasi semua itu, mengarahkannya sesuai dengan keyakinannya. Dan ia berhasil. Ia mengajar sambil belajar, dan berkembang secara intelektual dalam berbagai hal sehingga setiap orang tahu bahwa ia telah melangkah melampaui batas lingkungan dan zamannya. 

Bakat, lingkungan yang sesuai dan terutama keyakinan akan kebenaran Islam, bergabung dengan keikhlasan pemikiran dan sikap intelektual dan personal, semua itu telah dimanfaatkan Syari’ati sebaik-baiknya demi cita-citanya yang luhur. Berikut adalah catatannya tentang lingkungan dan pendidikannya. 

“Alangkah besar berkas yang dikaruniakan dalam hidupku. Tidak mungkin aku menilainya. Tidak seorang pun yang seberuntungku dalam hidup ini. Nasib telah mempertemukan aku dengan pribadi, pribadi yang luar-biasa, besar, indah, bersemangat serta kreatif, rasanya mereka berada dalam diriku. Bahkan sekarang pun bisa kuhayati kehadiran mereka di dalam diriku, dan aku hidup melalui mereka dan dalam mereka...(Kavir, hal. 88)

Sebagaimana halnya dengan pribadi-pribadi besar yang pernah menjadi gurunya, maupun orang lain yang telah menggairahkan zikir dan jihad kepadanya, begitu juga berbagai aspek ajaran Islam yang menjadi sumber inspirasi dan cita-citanya, hidupnya selalu dalam keadaan tafakkur, bergerak dan tanggung-jawab, berjuang demi kesempurnaan dan keabadian. Namun hidupnya tidak pernah merusak hubungannya dengan lingkungannya semula maupun keluarganya dan tidak pernah ia melupakan gurun Kavir. Setiap kali orang menyebut Mazinan memancarkan senyum bahagia pada wajahnya. 

Masa kanak-kanak dan remajanya biasa saja, tidak berbeda dengan siswa lainnya. Ia sekolah, turut ujian, setiap tahun naik kelas, mula-mula di sekolah dasar lalu di sekolah lanjutan. Sementara itu ia pun sibuk belajar bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama. Setamat sekolah lanjutan atas, karena senang akan profesi guru, ia masuk ke sekolah keguruan yang waktu itu merupakan lembaga yang harum dan penting, mempersiapkan mereka, yang karena suatu dan lain hal tidak bisa masuk ke universitas, untuk menjadi guru. Waktu itulah ia memulai kariernya sebagai penulis dengan karya-karyanya antara lain Pendidikan Tengah (Maktab-e Wasita), mengenai filsafat sejarah. Ia pun menyampaikan ceramah-ceramah di hadapan para mahasiswa dan intelektual di Pusat Dakwah Islam di Masyhad. 

Yang terutama membentuk dan mempengaruhi jalan pikirannya bukanlah program studinya yang konvensional. Juga bukan pendidikan tingginya di luar negeri. Melainkan kegemarannya untuk belajar dan berpikir, serta kreativitas dan tanggung-jawab yang berasal dari keyakinan Islamnya yang teguh. Begitu pun dari lingkungan pertamanya, yang senantiasa menjadi sumber petunjuk baginya. Pusat Dakwah Islam di Masyhad, yang selama tigapuluh tahun menjadi pusat kegiatan intelektual Muslim di kota itu, banyak berjasa kepadanya. Sebaliknya ia pun berperanan besar dalam kegiatan-kegiatan pusat dakwah itu dengan memberikan ceramah-ceramah, menjawab pertanyaan-pertanyaan, dan memimpin pertemuan-pertemuan.

Sejak dari mula, ia sangat gemar menulis dan memberi ceramah sebagai sarana pengembangan intelektual dan pendalaman iman. Apalagi ia memang memiliki kelancaran lisan dan ketajaman tulisan. Dengan bahasa-bahasa Prancis dan Arabnya, bahkan sejak sebelum ia masuk universitas, ia telah mampu menerjemahkan buku-buku dari bahasa-bahasa itu. Buku terjemahannya tentang Abu Dzar Al-Ghaffari dari bahasa Arab, dan sebuah buku tentang doa dari bahasa Prancis ― keduanya merupakan kenang-kenangan masa pra-universitasnya ― membuktikan keluasan pikiran dan ruang lingkup usahanya di masa itu. Lagi pula, kata pengantarnya yang jelas, lancar pada kedua terjemahan itu, menunjukkan arah dan kejernihan pemikiran ilmiahnya.

Dalam pandangannya, Islam bisa dianggap sebagai aliran tengah di antara berbagai aliran filsafat, sebagai jembatan antara sosialisme dan kapitalisme. Islam mencakup kebaikan dan segi-segi positif aliran-aliran pikiran lain dan sebaliknya menghindarkan segi-segi negatifnya.

Namun, ia sangat menaruh perhatian pada gerakan-gerakan ideologis dan anti imperialis yang ketika itu sedang melanda dunia Islam, dari Afrika Utara hingga Indonesia, serta mengisyaratkan aksi yang luas menyeluruh. Terjemahannya tentang Abu Dzar Al-Ghifari maupun tentang doa yang kecil tetapi bernas itu, keduanya merupakan hasil karya remajanya, telah menariknya kepada sumber-sumber Islam yang murni lagi suci serta merupakan tafsir sosialnya yang pertama tentang kehidupan Rasul maupun tokoh-tokoh Islam lainnya. Jelas sekali pengaruh Rasul serta tokoh-tokoh tersebut atas pribadi Syari’ati. 

Pada tahun 1956, Fakultas Sastra didirikan di Masyhad, dan Syari’ati bisa meneruskan studinya sambil bekerja sebagai guru, ia termasuk mahasiswa pertama yang terdaftar di fakultas itu. Di sini benturan-benturan pendapat dengan guru-gurunya semakin mendorongnya untuk lebih memperkembangkan jalan pikiran pilihannya sendiri. Di kelas maupun dalam kuliah yang dihadirinya ia selalu berperan aktif, tidak pernah tinggal pasif sebagaimana kebanyakan mahasiswa. Kesempatannya yang baru ini, untuk belajar, merenung, meneliti dan diskusi, ternyata telah menumbuhkan minatnya dalam sejarah agama, sejarah Islam dan filsafat sejarah. Ia mempertanyakan pelbagai hal, terutama tentang filsafat sejarah Toynbee, yang banyak ditentangnya. 

Kebebasan pikir dan keyakinannya terbukti dari tekadnya membela kebenaran dan keadilan serta perhatiannya yang khusus atas peristiwa-peristiwa keagamaan, sosial maupun politik yang menyangkut nasib rakyat. Meskipun di kala itu suasana bisu mencekam di mana-mana, namun tanpa gentar ia melibatkan diri dalam pertarungan dan pertentangan sosial, dalam perjuangan antara hak dan batil. Karena pidato-pidato, tulisan-tulisan serta kegiatan-kegiatan perlawanannya, maka pemerintah mengawasinya.

Tidak pernah ia bisa tinggal diam serta menerima keseimbangan negatif yang sudah mapan dalam masyarakat. Secara serentak ia berjuang menghadapi dua front. Ia menentang kelompok tradisionalis ekstrem yang telah membungkus diri mereka sendiri, memisahkan Islam dari masyarakat, mengucilkan diri di sudut-sudut masjid dan madrasah serta melancarkan reaksi negatif terhadap gerakan intelektual dalam masyarakat. Mereka telah menyelubungi cahaya Islam dengan tabir gelap dan berkurung diri di dalamnya. Ia pun menentang kelompok intelektual tanpa akar dan prakarsa yang berlindung di belakang skolastisisme baru. Kedua kelompok itu telah memutuskan hubungan mereka dengan masyarakat dan massa rakyat. Kepala mereka tunduk pada korupsi dan dekadensi zaman modern.

Sumber Bahasa Indonesia: Ali Syari’ati, Paradigma Kaum Tertindas (Sebuah Kajian Sosiologi Islam), Penerjemah Saifullah Mahyudin dan Husen Hashem, Penerbit Al-Huda Muharram 1422/April 2001.