Kamis, 16 Juli 2015

Imam Ali (as), Umar bin Khattab, dan Bocah yang Diinkari Ibunya



(Gambar: Parade Militer Republik Islam Iran)

Seorang anak datang kepada khalifah Umar bin Khattab untuk mengadu. Dia berkata: “Ibuku menahan warisan dari ayahku, dengan alasan bahwa aku bukanlah anaknya, sehingga aku tidak memperoleh warisan itu.” Kala itu khalifah Umar mendatangkan ibunya, lalu berkata kepadanya: “Mengapa kamu mengingkari anakmu?” Si Perempuan berkata: “Dia bohong! Aku mempunyai saksi bahwa aku masih perawan dan aku belum pernah menikah.” “Mana saksi-saksimu?” tanya Umar.

Perempuan itu pun mendatangkan 7 orang, yang semuanya bersaksi bahwa si Perempuan memang belum menikah. Tapi si anak masih membela diri dan berkata: “Aku punya bukti yang akan aku jelaskan, mudah-mudahan Anda memahaminya.” Umar berkata: “Katakan sesukamu!” “Ayahku sudah tua, namanya Sa`ad bin Malik “jelas si Anak. “Aku dilahirkan pada musim panas. Selama dua tahun aku disusui dengan susu kambing. Ketika aku dewasa, ayahku pergi bersama suatu rombongan. Tapi ia tidak kembali. Menurut kabar, ia telah meninggal di perjalanan. Ketika ibuku mendengar berita ini, ia mengingkariku dan menjauhiku”.

“Sekarang aku terdesak kebutuhan.” Umar berkata, “Ini perkara sulit. Mari kita pergi kepada Abal Hasan (Ali Bin Abi Thalib karramallahu wajhah)!” Di rumah Imam Ali, si Anak menceritakan duduk perkaranya kepada Ali Bin Abi Thalib karramallahu wajhah. Demikian pula si Perempuan ditanya, dan Imam Ali mendengarkan pembelaannya. Kepada Imam Ali, perempuan itu menjelaskan hal yang sama.

“Wahai Amir al Mukminin”, kata si Perempuan kepada Imam Ali, “aku seorang perawan. Aku tidak punya anak dan belum tesentuh oleh laki-laki.” Sayidina Ali berkata lagi kepadanya: “Jangan bicara terlalu panjang. Aku adalah putra Paman-nya Bulan Purnama (Rasulullah). Sungguh aku tahu kejadian yang sebenarnya.” Perempuan itu masih membela diri dan berkata: “Datangkanlah seorang bidan, biar dia memeriksa saya, apakah saya masih perawan atau tidak.”

Imam Ali berkata bahwa ia berkenan memenuhi permintaan perempuan tersebut dengan mendatangkan bidan. Kepada pembantunya Imam Ali berkata: “Qonbar, datangkanlah seorang bidan!” “Baiklah, ya Amir al Mu’minin!” Jawab Qonbar. Usai pemeriksaan keperawanan di kamar tertutup, bidan itu keluar dan berkata: “Benar ya Amir al Mu’minin, dia masih perawan.” Imam Ali berkata: “Bidan ini berbohong, periksalah dia, dan ambil gelang darinya!”

Kemudian si bidan diperiksa, dan ditemukan sebuah gelang diselipkan di pundaknya. Itu adalah gelang sogokan (suap –gratifikasi) dari perempuan tadi. Sebelum diperiksa, perempuan tadi menyerahkan gelang emas kepada si bidan dan berkata: “Saksikanlah dan katakanlah kepada Amir al Mu’minin (–Ali) bahwa aku perawan.”

Kini perempuan itu dihadapkan kembali kepada Imam Ali: “Wahai Perempuan, aku adalah sarang ilmu kenabian, penghias dan hakim agama. Aku ingin mengawinkan kamu dengan anak muda ini!” Perempuan tadi tersentak dan sontak berkata: “Tidak! Yaa Amir al Mu’minin, apakah Anda ingin membatalkan syariat Muhammad? Dia itu anakku!” Imam Ali berkata: “Datanglah kebenaran, sirnalah kebatilan. Rahasiamu telah terbuka. Sebenarnya apa yang kamu inginkan?” Perempuan itu menyesali dirinya, lalu ia berkata: “Aku takut dengan warisan, yaa Amir al Mu’minin!” Imam Ali berkata: “Mintalah ampun dari Allah, bertaubatlah kepadaNya!” 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar