Minggu, 15 Februari 2015

Arsitektur Intelektual dan Jaringan Pengetahuan




Sains memiliki sebuah arsitektur yang bernama arsitektur intelektual yang merupakan struktur hubungan antar teori. Hal ini adalah menyangkut apa yang dibutuhkan sains, yang bukan semata untuk mengetahui tentang alam, namun juga untuk memahaminya.

Pemahaman ilmiah dapat dipandang lewat karikatur Pierre Duhem terhadap dua jenis ilmuwan. Pierre Duhem adalah fisikawan sekaligus filsuf yang terlibat dalam masa-masa besar fisika di awal abad ke-20. Beberapa ilmuwan memiliki apa yang ia sebut pikiran kuat dan dalam, berfokus pada satu isu dan mengejarnya hingga ke yang paling dasar. Sedangkan sebagian ilmuwan lainnya lagi mendekati sains dengan pikiran lembut dan dangkal, dikendalikan oleh empirisme dan rasa lapar atas keanekaragaman fakta.

Steven Weinberg, fisikawan pemenang Nobel, menawarkan karakterisasi keindahan dalam fisika yang sama hubungannya dengan pemahaman kita. Ia menawarkan nilai epistemik dari “kekakuan teori-teori fisika”.

Teori adalah kaku dalam artian ia menyatukan potongan-potongan sedemikian, hingga tidak ada detail kecil dapat diubah tanpa merusak secara keseluruhan jaringan yang koheren. Ada jenis kebutuhan dan ketidak-terelakkan dalam deskripsi kaku teori pada alam, dalam artian nilai-nilai parameter dan struktur interaksi harus seperti yang dijelaskan teori, untuk mempertahankan konsistensi dan keterkaitan dengan alam. Sama halnya dengan satu not tidak dapat diubah tanpa merusak keindahan musik, tidak ada klaim teoritis dapat dilepaskan tanpa konsekuensi.

Sebagai contoh kekakuan teori, Steven Weinberg mengutip fakta kalau gaya gravitasi menurun sebagai kebalikan kuadrat jarak antara dua benda. Dalam konteks teori Newton, hubungan kuadrat terbalik ini dimotivasi empiris. Ia diletakkan dalam persamaan medan untuk mengakomodasi pengamatan orbit planet. Ia dapat berupa kubik terbalik, bila itu yang dibutuhkan untuk menyelamatkan fenomena.

Namun dalam teori relativitas umum, kuadrat terbalik adalah satu-satunya hubungan yang mungkin. “Relativitas umum mensyaratkan gaya harus turun sesuai hukum kuadrat terbalik”. Ada kekakuan teori, ada kesesuaian yang aman antara ide-ide dalam teori relativitas umum. Kita tahu kalau gaya menurun menurun kuadrat terbalik, dan kita tahu ini baik dalam konteks Newton maupun relativitas. Namun hanya dalam teori relativitas umum kita menemukan kalau fakta ini bersarang dalam jaringan teori, dan hanya dengan teori relativitas umum kita dapat mengklaim memahami hubungan ini.

Mengartikulasi struktur pemahaman membantu menjernihkan perbandingan antara ilmu alam dan sosial. Perbandingan ini biasanya dibuat dengan penekanan pada perbedaan domain kedua ilmu, perbedaan seperti ketelitian pengujian atau kesemestaan hukum. Isu ini umumnya lebih diperdebatkan pada sisi sosial ketimbang alam. Khususnya dalam sejarah dan arkeologi, ada pertanyaan metodologis tentang seberapa mirip ilmu ini dengan ilmu-ilmu alam. Perbedaan ini kurang lebih diasumsikan oleh ilmuan alam, namun ini adalah hasil dari berlebihan melihat peran pemahaman ilmiah. Struktur pemahaman kenyataannya adalah point penting dari perpotongan dalam metode ilmu sosial dan ilmu alam.

Jaringan Pengetahuan

Metode ilmiah harus melibatkan sejumlah besar gagasan. Dalam hal ini, sebuah teori dinilai oleh hubungannya dengan banyak pengamatan dan banyak teori. Pengetahuan ilmiah harus merupakan jaringan pernyataan yang koheren, baik secara empiris maupun teoritis.

Beberapa pengujian lebih penting dari yang lain, dan beraneka bukti adalah aspek penting pengujian empiris. Ini bukanlah hal mengejutkan. Metode ilmiah harus dinilai.

Pertanyaannya adalah apakah metode ilmiah tidak dapat semata informasi objektif dalam pengamatan dan logika. Harusnya pengamatan dan logika, dan sesuatu yang lain. Apakah sesuatu yang lain ini subjektif, dan karenanya kontribusi pribadi seorang ilmuwan? Jawaban singkatnya adalah tidak.

Penilaian akan kita berikan untuk mempertanyakan pentingnya data dan relevansinya, tidak peduli prasangka atau cita rasa terhadap faktanya. Ia tidak merujuk pada subjektivitas pribadi. Ia merujuk pada otoritas teori ilmiah yang telah ada dan kebutuhan untuk mempertahankan koherensi keseluruhan dalam sistem keyakinan. Bukan pengaruh pribadi yang menentukan penilaian, namun pengaruh teori. Itu mengapa penilaian ilmiah bukan berada di tangan siapapun yang ada di jalan. Ia ada di tangan para pakar, karena kepakaran memberi mereka konteks teoritis untuk membuat keputusan syarat teori.

Klaim ilmiah bukan hanya harus konsisten, namun juga harus kooperatif. Hal ini tidak seteliti konsistensi logis, namun membutuhkan bukan hanya kesesuaian dalam jaringan gagasan, namun juga hubungan antar gagasan. Klaim teoritis menjelaskan pengamatan, dan kadang menjelaskan klaim teoritis lainnya. Satu teori berpartisipasi dalam peran penopang dalam mempertimbangkan bukti teori lainnya, dan seterusnya. Ada aneka jenis hubungan antara gagasan ilmiah.

Dan jaringan klaim koheren saling hubung ini adalah sebuah tantangan sekaligus sebuah pencapaian dalam sains.

Sumber: P. Kosso, A Summary of Scientific Method, Springer Briefs in Philosophy, 1, 2011 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar